Berita

Ilustrasi bilik suara. (Foto: RMOL)

Politik

Pilkada Lewat DPRD Bisa Merembet Presiden Dipilih DPR RI

JUMAT, 09 JANUARI 2026 | 14:40 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD tidak bisa dilihat sebagai isu tunggal. Perubahan tersebut berpotensi merembet hingga mekanisme pemilihan presiden oleh DPR RI atau MPR.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, menilai, isu ini bersifat paralel dan historis. Ia mengingatkan bahwa Indonesia pernah mengalami fase ketika presiden dipilih oleh DPR/MPR, bukan langsung oleh rakyat.

“Presiden pernah dipilih oleh anggota DPR/MPR. Presiden bertanggung jawab pada MPR, bukan kepada rakyat. Ini cacat dalam presidensialisme,” ujar Saiful lewat akun X miliknya, Jumat, 9 Januari 2026.


Ia menjelaskan, jika kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD, maka pola pertanggungjawabannya juga akan berubah. Kepala daerah tidak lagi bertanggung jawab kepada rakyat, melainkan kepada DPRD sebagai pihak yang memilihnya.

Menurut Saiful, mekanisme tersebut membuka ruang instabilitas politik. Ia mencontohkan bagaimana presiden dan kepala daerah bisa dengan mudah diberhentikan oleh lembaga yang memilihnya.

“Karena itu presiden bisa dengan mudah diberhentikan MPR, seperti Gus Dur, dan kepala daerah juga dengan mudah dapat diberhentikan DPRD,” katanya.

Kondisi tersebut, lanjut Saiful, menjadi sumber instabilitas politik dan inefisiensi pemerintahan, sebagaimana yang pernah dialami Indonesia pada era 1950-an ketika menganut sistem parlementer.

Saiful juga menyoroti misi politik Partai Gerindra yang disebutnya memperjuangkan kembali UUD 18 Agustus 1945. Menurutnya, hal itu berarti mengembalikan posisi MPR sebagai lembaga yang memilih presiden.

Ia mengingatkan bahwa perubahan UU Pilkada bisa menjadi pintu masuk bagi perubahan aturan yang lebih besar, termasuk amandemen UUD terkait pemilihan presiden.

“Lebih dari 80 persen DPR sekarang ikut mau Gerindra atau Presiden Prabowo. Kalau tidak dilawan, ini bisa terjadi,” pungkas Saiful.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya