Berita

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Istimewa)

Hukum

Kebijakan Chromebook Era Nadiem Rawan Dikriminalisasi

KAMIS, 08 JANUARI 2026 | 09:27 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Persidangan dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dengan terdakwa mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, memicu beragam respons, termasuk dari kalangan akademisi.

Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus penulis buku Pola dan Akar Korupsi, Prof. Dr. Etty Indriati, menilai polemik pengadaan Chromebook perlu dilihat secara utuh, terutama dalam konteks situasi darurat pandemi Covid-19 saat kebijakan itu diambil.

Menurut Prof. Etty, publik kerap mengabaikan fakta bahwa keputusan pengadaan Chromebook lahir pada masa krisis, ketika dunia pendidikan menghadapi tantangan besar akibat pembelajaran jarak jauh. Dalam kondisi tersebut, pengambilan keputusan cepat merupakan bagian dari hak prerogatif seorang menteri.


“Chromebook memungkinkan guru mengontrol kegiatan siswa secara real-time. Administrator juga memiliki kendali penuh, sehingga konten negatif seperti pornografi dan judi online bisa diblokir sejak awal. Ini keunggulan yang krusial untuk melindungi siswa," ujarnya, Senin, 5 Januari 2026.

Secara antropologis dan fungsional, Prof. Etty menilai pemilihan Chromebook justru relevan untuk pendidikan dasar dan menengah. Ia merujuk pada praktik serupa yang telah lama diterapkan di Amerika Serikat.

Meski demikian, Prof. Etty mengakui Chromebook memiliki keterbatasan. Perangkat ini membutuhkan koneksi internet yang stabil dan tidak dirancang untuk kebutuhan komputasi berat seperti pengeditan video atau gim.

"Kelemahannya memang butuh internet kuat dan tidak didesain untuk program berat seperti edit video atau gaming. Tapi untuk standar pendidikan dasar, ini sangat memadai," tambahnya.

Yang lebih dikhawatirkan Prof. Etty adalah dampak jangka panjang jika kebijakan yang sah secara administratif terus dipersoalkan secara hukum tanpa dasar pembuktian yang kuat. Menurutnya, kondisi ini berpotensi melumpuhkan keberanian pejabat publik dalam berinovasi.

“"Kalau kebijakan seperti ini dipermasalahkan tanpa dasar yang jelas, orang akan takut berinovasi. Bahayanya, tidak akan ada perubahan baik karena pejabat eksekutif dihantui ketakutan dalam mengambil keputusan," tegasnya.

Sebagai akademisi yang mendalami pola korupsi, Prof. Etty menekankan bahwa inti pembuktian tindak pidana korupsi terletak pada aliran dana atau follow the money.

Jika kebijakan publik yang diambil dalam situasi darurat terus ditarik ke ranah pidana tanpa pembuktian aliran dana yang jelas, maka kondisi tersebut rawan mengarah pada kriminalisasi, di mana keputusan administratif diperlakukan seolah-olah kejahatan, sehingga membuat para pejabat eksekutif enggan mengambil langkah strategis dan inovatif. 

“Bagi saya sederhana: jika tidak ada aliran dana ke Nadiem Makarim, maka tidak ada korupsi. Ini adalah kebijakan yang merupakan hak dan tanggung jawab Menteri. Jangan sampai energi bangsa habis untuk mempermasalahkan kebijakan yang sebenarnya tidak memberikan keuntungan pribadi bagi pengambil keputusan," pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya