Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

AS Putuskan Mundur dari Kesepakatan Pajak Dunia, Apa Dampaknya Bagi RI?

RABU, 07 JANUARI 2026 | 12:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Di panggung ekonomi global, sedang terjadi tarik-ulur besar mengenai aturan pajak. Awalnya, banyak negara sepakat untuk menerapkan Pilar Dua OECD/G20, yaitu aturan pajak minimum global sebesar 15 persen. Tujuannya supaya negara-negara tidak "perang" banting harga pajak demi menarik investor. 

Hampir 150 negara telah menyepakati rencana penting ini untuk menghentikan perusahaan-perusahaan global besar mengalihkan keuntungan ke yurisdiksi dengan pajak rendah. 

Indonesia pun sudah bergerak maju dengan menerapkan aturan ini sejak awal 2025.


Namun, kabar mengejutkan datang dari Washington. Menteri Keuangan Scott Bessent baru-baru ini Kembali menegaskan bahwa aturan pajak minimum global ini tidak akan berlaku bagi perusahaan multinasional asal AS. Artinya, perusahaan seperti Google, Microsoft, dan Amazon tidak bisa dipajaki 15 persem oleh negara lain tempat mereka beroperasi, termasuk Indonesia.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bessent menjelaskan bahwa langkah ini adalah tindak lanjut dari "Day One Executive Orders" Presiden Donald Trump.

Pemerintahan Trump secara tegas membatalkan kesepakatan yang sebelumnya diajukan di era Joe Biden. Menurut Bessent, proposal lama tersebut sudah tidak punya taring lagi. 

"Hari ini, Pemerintahan (Trump) memenuhi janji tersebut. Melalui koordinasi erat dengan Kongres, Kementerian Keuangan bekerja untuk mencapai kesepakatan dengan lebih dari 145 negara dalam OECD/G20 Inclusive Framework," katanya, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu 7 Januari 2026.

Amerika Serikat kini memperkenalkan apa yang mereka sebut sebagai side-by-side agreement. Intinya, perusahaan yang bermarkas di AS hanya akan tunduk pada pajak minimum versi pemerintah AS sendiri. Bessent menekankan bahwa kesepakatan ini adalah cara AS menjaga harga diri dan kedaulatan ekonominya:

*"Kesepakatan ini merupakan kemenangan bersejarah dalam menjaga kedaulatan AS dan melindungi pekerja serta bisnis Amerika dari jangkauan ekstrateritorial yang berlebihan," tegas Bessent.

Lalu, apa efeknya buat Indonesia?

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sudah menetapkan peta jalan. Berdasarkan PMK No. 136/2024, Indonesia tetap menjalankan komitmen pajak global ini demi keadilan pajak di dalam negeri.

Direktur Perpajakan Internasional DJP, Mekar Satria Utama, beberapa waktu lalu di Jakarta menjelaskan bahwa Indonesia sudah punya jadwal yang rapi. Ia mengungkapkan, mulai 1 Januari 2025, skema pajak domestik (DMTT) sudah berlaku, dan pada 2026 nanti, aturan untuk perusahaan yang pajaknya masih di bawah standar (UTPR) akan menyusul.

Meskipun AS mengambil langkah berbeda, Indonesia tetap menyiapkan proses pelaporannya. Mekar menjelaskan bahwa untuk periode pajak 2025, pembayarannya akan jatuh tempo pada akhir 2026, sementara pelaporan administrasinya dijadwalkan pada pertengahan 2027. 

Kini dunia sedang melihat dua kutub yang berbeda. Di satu sisi, Indonesia dan puluhan negara lain berusaha menghapus persaingan tarif pajak rendah (race to the bottom). Di sisi lain, Amerika Serikat memilih menarik diri demi melindungi insentif riset dan investasi di dalam negerinya sendiri. 

Tantangan besarnya kini adalah bagaimana Indonesia menghadapi raksasa teknologi AS yang tetap memegang teguh aturan dari negara asalnya tersebut.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya