Berita

Ilustrasi Rupiah (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Isu Geopolitik Global Tekan Pasar Uang Asia

RABU, 07 JANUARI 2026 | 10:30 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar valuta asing (FX) di kawasan Asia terpantau bergerak dalam rentang terbatas dan cenderung defensif pada perdagangan awal pekan ini. 

Investor memilih sikap wait and see atau waspada seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai dapat mengguncang stabilitas pasar keuangan regional.

Ketegangan pasar kali ini dipicu oleh komentar pejabat Amerika Serikat terkait prioritas keamanan nasional, termasuk isu strategis terkait potensi akuisisi Greenland. Strategi geopolitik AS ini dianggap sebagai sinyal perubahan peta kekuatan ekonomi yang dapat berdampak luas bagi arus modal di Asia.


Selain itu, bayang-bayang operasi militer di berbagai belahan dunia memperburuk sentimen risiko. Ketidakpastian ini memaksa para pelaku pasar untuk beralih ke aset aman (safe haven), yang secara otomatis menekan mata uang Asia dan menghambat penguatan aset-aset berisiko di kawasan ini.

Meskipun secara global Dolar AS cenderung stabil, mata uang di Asia menunjukkan respons yang beragam dengan kecenderungan melemah.

Rupiah (IDR) menjadi mata uang yang paling dinamis sekaligus paling tertekan dalam sesi ini. Rupiah terkoreksi sebesar 0,11 persen ke Rp16.758 per Dolar AS. 

Penurunan 18 poin ini mencerminkan sensitivitas Rupiah yang lebih tinggi terhadap sentimen risiko global dibandingkan rekan regionalnya.


Yen Jepang (JPY) masih berada di bawah tekanan Dolar pada level 156,64, mencatatkan pelemahan tipis 0,01 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa Yen pun masih kesulitan menguat meski dalam situasi ketidakpastian.

Sedangkan Yuan China (CNY) juga tidak luput dari koreksi. Mata uang Tiongkok ini melemah 0,07 persen ke posisi 6,9840, menunjukkan sikap hati-hati pasar terhadap prospek perdagangan di Asia.

Won Korea (KRW) sempat menunjukkan sedikit perlawanan dengan penguatan 0,2 persen, namun Dolar Australia (AUD) justru terpangkas sekitar 0,1 persen mempertegas volatilitas yang sedang terjadi di kawasan Pasifik.

Analis pasar memperingatkan bahwa stabilitas yang terlihat pada Euro (1,1689) dan Poundsterling (1,3503) yang bergerak flat di angka 0,00 persen - 0,01 persen bisa menjadi tenang sebelum badai bagi pasar Asia.

Jika isu geopolitik memanas atau terjadi eskalasi militer, pelarian modal ke Dolar AS diprediksi akan semakin masif. Hal ini berpotensi memicu tekanan yang lebih dalam pada mata uang Asia, khususnya Rupiah, mengingat ketergantungan pasar regional pada stabilitas politik dan ekonomi global saat ini.


Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

UPDATE

Austria Tolak Wilayah Udaranya Dipakai AS untuk Serang Iran

Jumat, 03 April 2026 | 00:15

Memutus Mata Rantai Rabun Jauh Birokrasi

Kamis, 02 April 2026 | 23:50

PHE Tampilkan Inovasi Hulu Migas di Ajang Offshore Internasional

Kamis, 02 April 2026 | 23:21

Spirit ‘Kurban’ Prajurit UNIFIL

Kamis, 02 April 2026 | 22:57

Pencarian Berakhir Duka, Achmad Ragil Ditemukan Meninggal di Sungai Way Abung

Kamis, 02 April 2026 | 22:39

Robert Priantono Dicecar KPK soal Pungutan Tambang Kukar

Kamis, 02 April 2026 | 22:01

China Ajak Dunia Bersatu Dukung Inisiatif Perdamaian di Wilayah Teluk

Kamis, 02 April 2026 | 21:42

DPR: BPS Bukan Sekadar Pengumpul Data, tapi Penentu Arah Pembangunan

Kamis, 02 April 2026 | 21:31

78 Pejabat Pemkot Surabaya Dirotasi, Ada Apa?

Kamis, 02 April 2026 | 21:18

OJK Siap Luncurkan ETF Emas Akhir April 2026

Kamis, 02 April 2026 | 21:08

Selengkapnya