Berita

CN-235 Special Operations Squadron USAF (Foto: Mark Bess)

Publika

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 13:15 WIB

KITA kembali ke Venezuela. Saya kaget, ternyata dalam aksi penculikan Madura, ups salah, Nicolas Maduro oleh tentara Amerika Serikat (AS), ada keterlibatan Indonesia. Lah, kok iso? 

Dalam aksi bak film Holywood itu, Presiden AS Donald Trump mengerahkan 150 unit pesawat. Ternyata ada pesawat buatan Indonesia yang ikut terbang. Bukan aktor figuran, bukan juga cameo lewat. 

Laporan The New York Times menyebutkan salah satu armada yang digunakan adalah CN-235, pesawat hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia dengan CASA Spanyol. 


Lebih epiknya lagi, militer AS diperkirakan mengoperasikan sekitar 32 unit CN-235 dalam berbagai varian. Tiga puluh dua. Itu bukan numpang parkir, itu sudah satu skuadron arisan lengkap dengan notulen.

CN-235-220 adalah pesawat angkut militer ringan-menengah yang kerjanya mirip petugas logistik paling setia. Datang cepat, pergi senyap, beres urusan tanpa banyak drama. 

Kapasitas angkutnya mencapai 4.700 kilogram atau sekitar 36 penumpang. Kalau suasananya militer total, ia bisa membawa 49 tentara atau 34 pasukan terjun payung. Cukup untuk satu adegan penyergapan plus cadangan pasukan yang datang sambil minum kopi.

Keunggulan CN-235 ada pada bakatnya mendarat di tempat yang tidak Instagramable. Dengan kemampuan Short Take-Off and Landing, pesawat ini bisa lepas landas dan mendarat di landasan pendek dan tak beraspal. Mau aspal retak, tanah keras, atau jalur yang lebih mirip jalan kebun, dia santai. 

Ditenagai dua mesin turboprop General Electric CT7-9C masing-masing 1.750 shaft horsepower, atau 1.870 SHP dengan APR, pesawat ini punya performa hot and high yang efisien, irit bahan bakar, dan sanggup terbang hingga 11 jam. Sebelas jam. Itu cukup untuk satu operasi, dua briefing ulang, dan satu sesi debat siapa yang salah baca peta.

Dari sisi performa, CN-235 punya berat lepas landas maksimum 16.500 kilogram, berat pendaratan maksimum sama, dan berat muatan maksimal 5.200 kilogram. Kecepatan jelajah maksimumnya 237 knot, versi ekonomisnya 169 knot, dengan batas ketinggian 25.000 kaki. 

Jangkauan terbangnya 414 nautical mile dengan muatan maksimal, 2.110 nautical mile dengan bahan bakar penuh, dan jarak maksimum 2.293 nautical mile dengan cadangan bahan bakar 45 menit. 

Ini pesawat yang kalau bicara efisiensi, bikin bendahara militer senyum tanpa perlu sidang.

Fungsinya pun seluas ambisi geopolitik, transportasi pasukan, menjatuhkan paratroop, patroli maritim, peperangan anti-kapal selam, logistik, evakuasi medis, pengiriman udara, hingga konfigurasi VVIP/VIP. 

Bodi lebar, kabin bertekanan, teknologi sayap tinggi, pintu ramp belakang untuk bongkar muat cepat, dek penerbangan canggih, desain tangguh, perawatan mudah, dan konsumsi bahan bakar ekonomis. 

Pendek kata, ini pesawat pekerja keras yang tidak banyak gaya tapi selalu dipanggil saat keadaan genting.

Tak heran CN-235 diminati banyak negara. Brunei Darussalam, Malaysia, Pakistan, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Burkina Faso, Senegal, serta negara-negara di Timur Tengah, Amerika Latin, Asia, dan Eropa sudah melirik. 

Produksinya pun didorong untuk ditingkatkan, bukan cuma demi kebutuhan dalam negeri, tapi juga karena dunia, termasuk negara adidaya, sudah memberi sinyal, karya Indonesia layak dipercaya.

So, ketika dunia sibuk memperdebatkan penculikan cak Maduro, dan konspirasi tingkat dewa, ada satu fakta kecil yang patut kita nikmati sambil tertawa bangga. 

Di langit operasi paling dramatis itu, pesawat buatan Indonesia terbang tenang. Tanpa pidato. Tanpa klaim moral. Hanya mesin yang berputar, data yang bicara, dan satu pesan, kadang kebanggaan nasional datang bukan dari teriak paling keras, melainkan dari terbang paling jauh.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

KPK Panggil VP PT Valbury Asia Futures di Kasus Gratifikasi Mantan Sekjen MPR

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:31

Karhutla Ancam Orangutan, Puluhan Satwa Dievakuasi

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:23

Kepala BPGMN hingga Menkopolkam Merapat ke Istana Jelang Ratas Karhutla

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:22

Ancaman MSCI, Sudah Tepat OJK Sanksi Emiten Milik Prajogo Pangestu dan Franky Widjaja

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:20

Pemerintah Jangan Anggap Remeh Hasil Survei

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Kasus Dugaan Suap, KPK Panggil Pejabat Pemkab Lombok Barat dan Staf Hotel

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:09

Roadmap IHT Dibutuhkan untuk Jamin Kepastian Usaha

Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05

Terancam Turun Kelas, BEI Temui MSCI Sore Ini

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:51

Kasus Suap Asuransi Perkapalan Pelni, KPK Panggil Petinggi Pialang Asuransi

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:45

Komisi III DPR Dukung Kapolri Dorong MUI Kaji Fatwa soal Vape

Senin, 19 Oktober 2026 | 13:39

Selengkapnya