Berita

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Politik

Manuver Trump Picu Ketegangan Global, Indonesia Diminta Waspada

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 12:09 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Dinamika global yang bergerak cepat berpotensi memberi tekanan besar terhadap stabilitas geopolitik dan ekonomi Indonesia.

Jurnalis senior Hersubeno Arief menyoroti manuver Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dinilai semakin agresif dan berisiko memanaskan situasi global.

“Faktor global yang sekarang berubah sangat cepat tentu saja ini juga akan mempengaruhi. Amerika baru saja melakukan ekspansi dengan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sekarang sedang mengancam lagi wakil presidennya yang ditunjuk menjadi presiden karena tidak tunduk pada kemauan dia, yakni untuk menyerahkan kedaulatan dan terutama ladang-ladang minyaknya ke Amerika,” ujar Hersubeno dalam YouTube Hersubeno Point yang dikutip pada Selasa, 6 Januari 2026.


Tak hanya itu, Trump juga disebut kembali melontarkan wacana kontroversial dengan mempertimbangkan pengambilalihan Greenland dari Denmark.

“Trump juga menyatakan bahwa dia tetap mempertimbangkan untuk mengambil alih Greenland dari wilayah yang dimiliki oleh Denmark dengan alasan keamanan,” lanjutnya.

Menurut Hersubeno, rangkaian manuver tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik global dan berdampak langsung pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Manuver-manuver dari Trump itu bisa berdampak terhadap memanaskan situasi global dan tentu saja kita sangat rentan terhadap perubahan-perubahan geopolitik global itu, terutama ekonomi kita yang juga mengandalkan negara-negara lain untuk pasaran ekspor, misalnya seperti China dan juga Amerika yang menjadi salah satu sasaran ekspor kita,” tuturnya.

Merujuk pada proyeksi lembaga internasional dan domestik, ia memprediksi pertumbuhan ekonomi RI yang dipatok Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebesar 6 persen tidak akan tercapai tahun ini.

"Keraguan itu datangnya dari konsensus yang sangat luas, internasional bahkan juga domestik yang menilai pondasi ekonomi Indonesia itu belum cukup kuat kalau untuk melakukan akselerasi sampai ke angka 6 persen," pungkasnya.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Pasutri Pura-pura Jadi Korban Begal Gegara Terlilit Utang

Selasa, 14 Juli 2026 | 02:15

Kasus Korupsi Febrie Adriansyah Mendunia

Selasa, 14 Juli 2026 | 02:02

Seleksi JPT Pratama Digugat, GHARIS Seret Pemkot Tangsel ke PTUN

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:47

Prabowo Bergerak Cepat Cegah Friksi TNI, Polri dan Kejaksaan

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:10

Bongkar Dugaan Bunker Jokowi di Solo dan Karanganyar

Selasa, 14 Juli 2026 | 01:00

DPR Didesak Investigasi Proyek Jarkompenas AirNav

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:38

Semifinal Piala Dunia, Iran vs Amerika, Wasitnya Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:12

Operasi Pendinginan Kapolri-Jaksa Agung Mengaburkan Akuntabilitas Perkara

Selasa, 14 Juli 2026 | 00:00

Pernyataan Juri Ardiantoro soal Pengelolaan Aset Negara di Kemayoran Tuai Apresiasi

Senin, 13 Juli 2026 | 23:54

235 Bus Sekolah Gratis Layani Pelajar Jakarta

Senin, 13 Juli 2026 | 23:40

Selengkapnya