Berita

Beras SPHP di salah satu pasar modern di Jakarta Selatan (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Bapanas: Indonesia Sudah Masuk Fase Swasembada Beras

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 11:39 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Indonesia resmi berada di jalur swasembada beras dengan capaian stok tertinggi sepanjang sejarah. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengungkapkan ada tiga indikator utama yang mengukuhkan posisi tersebut.

Pertama, Indonesia tidak melakukan impor beras sepanjang 2025. Kedua, produksi beras nasional jauh melampaui tingkat konsumsi. Ketiga, stok beras Perum Bulog berada pada level yang sangat tinggi, yakni lebih dari 3 juta ton hingga akhir tahun.

“Tiga indikator ini menunjukkan bahwa kita sudah bisa menyatakan Indonesia berada dalam posisi swasembada beras,” ujar Ketut di Jakarta, Selasa 6 Januari 2026


Ketut menjelaskan, standar swasembada juga mengacu pada ketentuan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Menurut FAO, suatu negara tetap dapat dikategorikan swasembada meskipun masih melakukan impor, selama jumlahnya tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan.

“Apalagi saat ini Presiden Prabowo Subianto dan Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan tidak ada impor beras konsumsi. Artinya, arah kita sudah sangat jelas menuju swasembada penuh,” katanya.

Ia menilai, visi swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo mulai terwujud sejak tahun pertama pemerintahannya. Kebutuhan beras sebagai pangan pokok strategis kini sepenuhnya mampu dipenuhi dari hasil produksi petani dalam negeri, tanpa bergantung pada impor sepanjang 2025.

Bapanas pun mendukung penuh capaian tersebut. Indikator swasembada beras tercantum dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025 yang disusun Bapanas bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, serta kementerian dan lembaga terkait lainnya.

“Berdasarkan data BPS, produksi beras tahun 2025 mencapai lebih dari 34 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi sekitar 31 juta ton. Artinya, kita memiliki surplus sekitar 3 juta ton. Itu sudah menjadi indikator kuat swasembada,” jelas Ketut.

Secara rinci, Bapanas mencatat surplus beras nasional pada 2025 mencapai 3,52 juta ton. Angka tersebut berasal dari produksi beras sebesar 34,71 juta ton, yang melampaui kebutuhan konsumsi tahunan sebesar 31,19 juta ton. Perhitungan kebutuhan ini juga telah mencakup program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Surplus tersebut berdampak langsung pada penguatan stok beras nasional. Pada awal 2026, total stok beras Indonesia diperkirakan mencapai 12,529 juta ton. Dari jumlah itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog mencapai 3,248 juta ton, sementara sisanya tersebar di masyarakat, pedagang, dan distributor.

“Dengan kebutuhan bulanan sekitar 2,5 juta ton, stok 12,5 juta ton ini membuat posisi kita sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan,” tegas Ketut.

Ia menambahkan, produksi padi pada Januari–Februari 2026 serta panen raya pada Maret–April akan semakin memperkuat kondisi pangan nasional. “Ini menandakan tahun 2026 akan jauh lebih aman,” ujarnya.

Ketut memastikan, ketersediaan beras saat ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang aman dan terkendali.

Sebelumnya, Kepala Bapanas yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan optimisme serupa. Ia menegaskan stok beras nasional pada 2026 berada dalam kondisi sangat aman tanpa perlu impor.

“Stok beras kita sangat aman. Tanpa impor, cadangan beras pemerintah lebih dari 3 juta ton. Ini tertinggi sepanjang sejarah dan beras kita surplus,” kata Amran.

Ia juga mengingatkan pelaku usaha pangan agar tidak memainkan harga di luar ketentuan. “Tidak ada masalah pasokan hingga Ramadhan 2026. Jika ada yang bermain harga, akan kita tindak tegas bersama Satgas Pangan Polri,” pungkasnya.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Pasar Minyak Wait and See Situasi Terkini Hormuz

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:14

Kedekatan dengan Megawati Menguntungkan Pemerintahan Prabowo

Selasa, 02 Juni 2026 | 10:04

Telur Jatuh di Bawah Harga Impas, BGN Turun Tangan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:51

Kebakaran Hebat di Kemayoran Ludeskan 250 Rumah

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:38

Video Parade ALF di Perbatasan Aljazair Jadi Sorotan Internasional

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:32

Anies Angkat Topi untuk Dino Patti Djalal: Bukan Diplomat Karbitan

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:31

IHSG Loncat 1,35 Persen, Rupiah Tertekan Pagi Ini di Rp17.888 per Dolar AS

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:26

Iran Ancam Hentikan Negosiasi Jika Israel Terus Serang Lebanon

Selasa, 02 Juni 2026 | 09:09

Wildan Hakim: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Peristiwa yang Natural

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:58

GREAT Institute: Shangri-La Dialogue Krusial untuk Navigasi Ketidakpastian Geopolitik

Selasa, 02 Juni 2026 | 08:43

Selengkapnya