Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Dolar AS Terkoreksi: Pasar Lebih Fokus pada Data Ekonomi Ketimbang Konflik Venezuela

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 09:14 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Meskipun sempat menyentuh level tertinggi dalam empat pekan, nilai tukar Dolar AS di pasar uang New York akhirnya terpantau melemah pada perdagangan Senin 5 Januari 2026 waktu setempat. 

Indeks Dolar (DXY) ditutup turun 0,3 persen ke level 98,262. Menariknya, para investor cenderung mengabaikan eskalasi geopolitik di Venezuela, termasuk penangkapan Nicolas Maduro, dan lebih memilih memprioritaskan indikator ekonomi domestik AS untuk menebak arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.

Fokus utama pasar kini tertuju pada laporan tenaga kerja yang akan dirilis Jumat ini, yang dianggap lebih berpengaruh terhadap prospek suku bunga dibandingkan isu di Caracas. Di sisi lain, data manufaktur AS yang terus merosot selama sepuluh bulan terakhir akibat kebijakan tarif Presiden Trump memberikan tekanan tambahan bagi Greenback.


Pelemahan Dolar AS ini terlihat jelas saat berhadapan dengan mata uang utama lainnya. 

Euro (EUR), misalnya, berhasil bangkit dari tekanan awal dan menguat tipis 0,05 persen ke level 1,17265 Dolar AS. 

Kondisi serupa terjadi pada mata uang safe-haven lainnya. Franc Swiss (CHF) menguat 0,16 persen terhadap Dolar AS ke posisi 0,79135, sementara Yen Jepang (JPY) melonjak cukup signifikan sebesar 0,37 persen ke level 156,19 setelah Gubernur Bank of Japan memberi sinyal akan terus menaikkan suku bunga.

Sentimen positif juga merembet ke mata uang komoditas. Dolar Australia (AUD) mencatatkan kenaikan 0,31 persen ke posisi 0,6714 Dolar AS. Dolar Selandia Baru (NZD) mengekor dengan penguatan 0,35 persen di level 0,5789 Dolar AS.

Sementara itu, di pasar valuta asing, Rupiah tak luput dari fluktuasi. Pada perdagangan dini hari pukul 02.59 WIB, mata uang Garuda tercatat sedikit tertekan ke level Rp16.740 per Dolar AS, mengalami pelemahan tipis sebesar 0,09 persen atau turun sekitar 15 poin.

Secara keseluruhan, pasar saat ini sedang dalam mode "tunggu dan lihat". Meski secara historis keberhasilan misi militer AS di luar negeri sering memperkuat dolar, kali ini investor lebih mengkhawatirkan perlambatan ekonomi domestik dan menanti siapa sosok yang akan dipilih Presiden Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya untuk menggantikan Jerome Powell.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya