Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Dunia

Cari Selamat, Eropa Pilih Bungkam Soal Penangkapan Maduro

SELASA, 06 JANUARI 2026 | 08:50 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Para pemimpin Eropa bersikap sangat hati-hati dan cenderung bungkam menanggapi intervensi militer AS di Venezuela. Sikap ini dinilai sebagai upaya menjaga hubungan strategis dengan Washington, terutama demi kepentingan keamanan di Ukraina, alih-alih bentuk dukungan terbuka terhadap aksi Donald Trump.

Pasca penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS di Caracas, mayoritas pemimpin Eropa menghindari kecaman meski tindakan tersebut dinilai melanggar kedaulatan.

Kanselir Jerman Friedrich Merz hanya menyebut operasi itu sebagai persoalan yang “secara hukum kompleks”, sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer hanya mengatakan situasinya “berkembang dengan cepat”. Pernyataan-pernyataan ini dinilai aman, tanpa konfrontasi langsung dengan Trump


Meski hampir semua pemimpin Eropa menegaskan pentingnya “hukum internasional”, tak ada yang benar-benar menyayangkan kejatuhan Maduro. Uni Eropa (UE) sendiri menganggap Maduro tidak sah sejak pemilu Venezuela 2024 yang dipersengketakan dan melihatnya sebagai sekutu Rusia.

Juru bicara UE Paula Pinho menyebut peristiwa ini sebagai “peluang bagi transisi demokrasi di Venezuela”, sambil menghindari komentar atas klaim Trump bahwa AS kini akan menjalankan Venezuela. Pernyataan tersebut mencerminkan sikap UE yang berhati-hati agar tidak memancing kemarahan Washington.

Satu-satunya kritik agak keras datang dari Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, yang mengatakan intervensi AS “melanggar hukum internasional”. Namun, pernyataan itu tidak diikuti langkah nyata apa pun dari Eropa.

Seorang diplomat UE yang berbicara secara anonim mengakui sikap ini murni soal kepentingan. “Kami punya masalah besar di tempat lain. Suka atau tidak, kami butuh keterlibatan AS. Mengeluarkan pernyataan keras untuk membela Maduro bukanlah kepentingan kami,” ujarnya, dikutip dari AFP, Selasa 6 Januari 2026.

Intervensi di Venezuela terjadi saat Eropa sangat bergantung pada AS untuk masa depan Ukraina. Tanpa dukungan Washington, Eropa khawatir tidak ada jaminan keamanan jika Trump menekan Kyiv agar menyerahkan wilayah demi kesepakatan damai dengan Rusia.

“Tanpa AS, tidak ada jaminan keamanan,” kata seorang pejabat UE.

Kekhawatiran Eropa juga bertambah setelah Trump kembali menyuarakan keinginannya menguasai Greenland, wilayah otonom Denmark. Meski UE dan Inggris menyatakan mendukung Denmark, respons mereka tetap berhati-hati dan menghindari konfrontasi langsung.

Seorang diplomat Uni Eropa merangkum dilema tersebut dengan lugas: “Kami harus menenangkan Trump, bukan memancing amarahnya. Tidak banyak yang bisa kami lakukan, dan Trump tahu itu.”

Para analis menilai aksi AS di Venezuela memberi sinyal berbahaya bagi tatanan dunia berbasis aturan. Ian Lesser dari German Marshall Fund memperingatkan bahwa tindakan ini bisa menjadi preseden bagi negara besar untuk memaksakan kehendaknya. “Ini bisa berlaku di Taiwan, Ukraina, atau Moldova. Pada dasarnya, ini menciptakan masalah sistemik," ujarnya.

Think tank European Council on Foreign Relations menilai Eropa akhirnya harus memilih, menyesuaikan diri atau melawan ambisi Washington.

“Pertanyaannya bukan apakah Eropa bisa menghindari gesekan dengan AS, melainkan apakah Eropa mau membela kepentingannya sendiri saat tekanan datang dari sekutu terkuatnya," kata mereka.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR Khawatir Pekerjaan Debt Collector jadi Ilegal, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:43

Keripik Pisang Lokal Besutan Rumah BUMN BRI Tembus Malaysia dan Hong Kong

Minggu, 23 Agustus 2026 | 01:19

Menlu China Mesra dengan Luhut, Sejumlah Tawaran Kerja Sama Mengalir

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:54

Program Gerakan “Warga Peduli Warga” Jaringan Aktivis 98 Berlanjut di Lampung

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:28

Sejumlah Elemen Mahasiswa Ogah Ikut Demo AMPB 27 Agustus, Ini Sebabnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 00:10

Ribuan Warga Meriahkan Panggung Rakyat Merdeka PANsar Murah di Kendal

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:50

BRI Raih Tiga Penghargaan Bergengsi Alpha Southeast Asia 2026

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:28

DPR Tekankan Penguatan Pengendalian Lingkungan untuk Hentikan Karhutla

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:58

YLBHI Dorong Bareskrim Usut Perwira Diduga Terlibat Penipuan Investasi Tambang Emas

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 22:14

Pikat Pembeli dari Singapura hingga Belanda, Produk UMKM Asal Sumut Berdaya Bersama BRI

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 21:55

Selengkapnya