Berita

Pengemudi Gojek menonton sidang Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim lewat layar Videotron. (Foto: RMOL/Ahmad Alfian)

Hukum

Nadiem Tegaskan Tak Ada Bukti Korupsi Lewat Eksepsi

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 18:19 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim menyampaikan eksepsi atau keberatan atas dakwaan Jaksa Penuntut Umum dalam sidang dugaan korupsi Program Digitalisasi Pendidikan di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Senin, 5 Januari 2026.

Dalam eksepsinya, Nadiem menegaskan tidak ada satu pun bukti yang menunjukkan dirinya melakukan tindak pidana korupsi. 

Ia menilai surat dakwaan JPU disusun secara tidak cermat, tidak jelas, dan tidak didukung alat bukti yang sah sehingga bertentangan dengan hukum acara pidana serta berpotensi mencederai asas keadilan.


"Atas permintaan Kementerian, di tahun 2023 dan 2024 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) telah 2 kali melakukan audit kepatuhan atas Program Bantuan Peralatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk tahun 2020 serta 2021-2022, dan tidak ditemukan adanya harga yang tidak tepat atau tidak wajar maupun pelanggaran yang mengakibatkan potensi kerugian negara," ungkap Nadiem.

Hal serupa juga ditegaskan melalui audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK RI) yang tidak mencatat adanya pelanggaran keuangan negara.

Menurut Nadiem, perhitungan kerugian negara justru baru muncul setelah dirinya ditetapkan sebagai tersangka pada November 2025, dan laporan tersebut tidak pernah dideklarasikan oleh BPK RI sebagai lembaga yang berwenang secara konstitusional menetapkan kerugian negara.

“Saya sangat tidak mengerti dan sangat mempertanyakan apabila ada hasil audit BPKP yang tidak mendapat deklarasi dari BPK-RI. Padahal, BPK-RI adalah satu satunya Institusi yang ditetapkan dapat mendeklarasikan kerugian negara. Kenapa BPKP tidak meminta deklarasi ke BPK-RI?” tanya Nadiem.

Ia juga membantah tuduhan menerima aliran dana Rp809 miliar, dengan menegaskan bahwa dana tersebut merupakan transaksi korporasi antara PT Aplikasi Karya Anak Bangsa dan PT Gojek Indonesia yang tidak sepeser pun diterimanya. Adapun perubahan nilai kekayaannya, kata Nadiem, semata-mata dipengaruhi fluktuasi harga saham PT AKAB pasca-IPO.

Terkait penggunaan Chrome OS dalam pengadaan laptop, Nadiem menyatakan dirinya tidak terlibat dalam proses pengadaan, penetapan harga, maupun seleksi vendor. Bahkan, kebijakan tersebut disebut justru menghasilkan penghematan anggaran sedikitnya Rp1,2 triliun karena lisensi Chrome OS bersifat gratis.

"Kalau saya tidak menandatangai dokumen apapun di tahun 2020 yang berhubungan dengan Chrome OS, kenapa bisa dakwaan menyebut peran saya dalam pengadaan tanpa bukti atau penjelasan? Apakah saya terlibat dalam penentuan harga? Apakah saya terlibat dalam seleksi vendor? Menteri tidak pernah terlibat dalam proses teknis pengadaan, hanya sebatas kebijakan, tetapi dakwaannya justru mengaburkan pemisahan kewenangan ini," bebernya.

Melalui eksepsi itu, Nadiem meminta Majelis Hakim menolak surat dakwaan JPU dan menjatuhkan putusan yang seadil-adilnya berdasarkan hukum dan hati nurani. 

"Saya sebagai warga negara Indonesia merasa dirampas kebebasan dan nama baik saya jika dijadikan tersangka dan terdakwa tanpa mendapatkan penjelasan yang lengkap. Saya membaca dakwaan ini seperti membaca cerita orang lain yang saya tidak kenal. Saya begitu bingung dan kecewa membaca dakwaan ini, karena semua tuduhan ini dapat saya jelaskan tanpa harus menarik saya ke penjara," demikian Nadiem.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

Cegah Kabur, Segera Eksekusi Razman Nasution!

Kamis, 21 Mei 2026 | 05:04

UPDATE

PT DSI Fokus Genjot Ekspor 3 Komoditas Ini

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:53

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:32

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:10

Prabowo Dijadwalkan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila Besok

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:01

Kedekatan Prabowo dengan Tiga Pemimpin Adidaya Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:43

Kamboja Bebaskan Denda Overstay 5.950 WNI Terjerat Kasus Online Scam

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24

Rekam Jejak Ryamizard Ryacudu: Dari Titisan Darah Militer hingga Kursi Eksekutif

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:05

Meski Disidangkan, Kasus LCC Empat Pilar Perlu Pertimbangkan Jalan Damai

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:44

Program Bioflok Presiden Prabowo di Karawang Sukses Panen Raya 1,2 Ton Ikan Nila

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:34

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya