Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI))

Bisnis

Pertumbuhan Sektor Jasa China Melambat

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 14:23 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Aktivitas sektor jasa di China melambat dalam enam bulan terakhir pada Desember 2025, dipicu melemahnya pertumbuhan bisnis baru serta turunnya permintaan dari luar negeri, menurut survei sektor swasta yang dirilis Senin, 5 Januari 2026.

Dikutip dari Reuters, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa China versi RatingDog yang disusun oleh S&P Global turun tipis menjadi 52,0 pada Desember, dari 52,1 pada November. Meski masih berada di atas level 50, angka ini merupakan yang terlemah sejak Juni. PMI di atas 50 berarti aktivitas masih tumbuh, sementara di bawah 50 menandakan kontraksi.

Pertumbuhan bisnis baru tercatat melambat ke level terendah dalam enam bulan. Bahkan, bisnis ekspor baru kembali masuk zona kontraksi setelah sempat tumbuh pada bulan sebelumnya. Survei menyebut penurunan ini terutama disebabkan oleh berkurangnya jumlah wisatawan asing.


Meski demikian, sentimen pelaku usaha justru membaik. Indeks ekspektasi bisnis naik ke level tertinggi dalam sembilan bulan, didorong oleh harapan kondisi pasar yang lebih baik serta rencana ekspansi pada 2026.

“Sektor jasa menutup 2025 dengan profil pertumbuhan yang moderat namun disertai ekspektasi yang tinggi,” ujar Yao Yu, pendiri RatingDog, menambahkan bahwa penurunan tenaga kerja dan permintaan global yang tidak stabil masih menjadi tantangan utama.

Secara lebih luas, perekonomian China masih kesulitan mendapatkan kembali momentum akibat masalah struktural, termasuk krisis properti yang berkepanjangan dan tekanan deflasi. Meski begitu, China diperkirakan tetap berada di jalur untuk mencapai target pertumbuhan sekitar 5 persen pada tahun ini. Pemerintah juga meningkatkan upaya untuk menekan kelebihan kapasitas dan perang harga antarperusahaan guna meredam deflasi.

Survei tersebut juga menunjukkan perusahaan memangkas jumlah tenaga kerja untuk bulan kelima berturut-turut, baik pekerja tetap maupun paruh waktu. Biaya input naik selama sepuluh bulan berturut-turut akibat kenaikan harga bahan baku dan upah. Namun, ketatnya persaingan memaksa perusahaan menurunkan harga jual karena daya tawar harga yang terbatas.

Sementara itu, Indeks Output Gabungan, yang mencerminkan kinerja sektor manufaktur dan jasa, tercatat di level 51,3 pada Desember, sedikit naik dibanding 51,2 pada November.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya