Berita

Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)

Bisnis

Venezuela Tatap Jalan Panjang Perbaikan Ekonomi

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 13:27 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Venezuela kini memasuki babak baru yang rapuh setelah Presiden Nicolas Maduro dan istrinya ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dalam sebuah operasi mendadak di Caracas akhir pekan lalu. 

Penangkapan ini menandai berakhirnya kekuasaan Maduro, sekaligus membuka pertanyaan besar: apa yang akan terjadi selanjutnya pada Venezuela?

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat untuk sementara akan mengambil alih administrasi Venezuela. Menurutnya, langkah ini diperlukan agar transisi kekuasaan berjalan aman dan tidak kembali jatuh ke tangan pihak yang merugikan rakyat Venezuela.


“Kami akan menjalankan negara ini sampai transisi yang aman, tepat, dan bijaksana bisa dilakukan,” ujar Trump kepada wartawan di Mar-a-Lago, Florida, dikutip dari Fox Business, Senin 5 Januari 2026.

Namun, memperbaiki Venezuela bukan perkara mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah mata uang Bolivar yang terpuruk parah. Dalam 12 bulan terakhir saja, nilai Bolivar anjlok hingga 469 persen, menurut data Trading Economics. Kondisi ini membuat daya beli masyarakat semakin hancur dan memperparah krisis ekonomi yang sudah berlangsung lama.

Sejumlah ahli menilai solusi awal bisa dilakukan lewat reformasi mata uang. Profesor tamu Universitas Austin, Robert Wright, menyarankan penggunaan currency board, yaitu sistem yang mengaitkan nilai Bolivar langsung ke Dolar AS. Menurutnya, kebijakan ini sering berhasil menstabilkan mata uang dan mencegah hiperinflasi kembali terjadi. 

Venezuela sendiri pernah mengalami hiperinflasi ekstrem pada 2019, dengan inflasi resmi mencapai lebih dari 344.000 persen.

Masalah ekonomi Venezuela sebenarnya sudah berakar sejak puluhan tahun lalu, terutama akibat kebijakan ekonomi yang buruk. Salah satu titik balik terjadi pada 1976 ketika pemerintah menasionalisasi seluruh industri minyak dan gas. 

Perusahaan asing seperti Exxon dan Shell diambil alih dan dikelola oleh perusahaan negara PDVSA. Kebijakan ini semakin diperparah di era Presiden Hugo Chávez, yang secara terbuka menolak ekonomi pasar dan mendorong sosialisme penuh.

Kondisi PDVSA makin memburuk setelah pemogokan besar-besaran pada 2002. Pemerintah Chávez memecat lebih dari 18.000 pekerja berpengalaman, sebagian besar insinyur minyak. Akibatnya, produksi minyak anjlok drastis dari puncak 3,5 juta barel per hari pada 1997 menjadi sekitar 1,1 juta barel saat ini. Banyak posisi penting diisi oleh loyalis politik, bukan tenaga ahli.

Presiden Trump sendiri menyampaikan kemarahannya atas kondisi tersebut.

“Kami membangun industri minyak Venezuela dengan talenta dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami,” kata Trump dalam konferensi pers.

Dampak ekonomi ini sangat dirasakan rakyat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat sekitar 15 persen penduduk Venezuela -- sekitar 4 juta orang -- sangat membutuhkan bantuan pangan. Krisis makanan sudah terlihat sejak 2016, ketika rak supermarket kosong dan bahkan hewan kebun binatang mati kelaparan. Pada 2018, rata-rata warga Venezuela kehilangan lebih dari 9 kilogram berat badan akibat kekurangan gizi.

Para ekonom menilai prioritas utama ke depan adalah mencegah kekacauan sosial, memastikan pasokan makanan, serta memulihkan layanan dasar. Jalan menuju pemulihan masih panjang, dan masa depan Venezuela kini bergantung pada bagaimana transisi kekuasaan dan kebijakan ekonomi baru dijalankan setelah era Maduro berakhir.

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya