Berita

Laksda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Politik

Berikut Analisis Geopolitik Hingga Geoekonomi Invasi AS ke Venezuela

SENIN, 05 JANUARI 2026 | 03:31 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Invasi militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela yang menangkap Presiden Nicolas Maduro dalam sudut pandang geopolitik telah merepresentasikan eskalasi maksimal dari Doktrin Monroe untuk mengukuhkan hegemoni absolut Paman Sam.

Hal itu disampaikan pakar geopolitik sekaligus Sekretaris Jenderal IKAL Strategic Centre (ISC) Laksda TNI (Purn) Dr. Surya Wiranto dalam pesan elektronik yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu malam, 4 Januari 2026.

“Invasi ini sekaligus strategi penahanan (containment) aktif terhadap pengaruh Tiongkok dan Rusia di halaman belakang tradisional Washington. Tindakan ini adalah pernyataan tegas bahwa AS tidak akan mentolerir pemerintahan yang beraliansi dengan rival strategisnya di Amerika Latin,” kata Surya.


Mantan Wadanseskoal itu juga menjelaskan dari aspek geostrategi, operasi ini memiliki logika militer "decapitation strike" (menghancurkan kepemimpinan) dan "fait accompli". 

“Dengan menyerang secara mendadak dan menawan pemimpin tertinggi, AS berupaya menciptakan kenyataan di lapangan yang sulit dibalikkan sebelum komunitas internasional bereaksi. Kontrol atas wilayah udara, laut, dan infrastruktur kunci Venezuela menjadi tujuan langsung untuk mencegah respons kohesif dan memastikan dominasi medan perang,” urainya.

Sedangkan dalam kerangka geoekonomi, purnawirawan TNI AL yang juga menjadi penasihat Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) ini menyebut invasi Paman Sam tersebut sebagai perang sumber daya (resource war) yang telanjang. 

Menurut dia, Venezuela dengan cadangan minyak terbesar dunia adalah target utama. Invasi bukan sekadar tentang mengubah rezim, tetapi tentang mengontrol aliran dan harga minyak global, melemahkan posisi tawar OPEC+, serta mengganggu rantai pasokan energi Tiongkok yang sangat bergantung pada minyak Venezuela. 

“Tindakan ini juga bertujuan mensterilkan aset miliaran dolar investasi Tiongkok dan Rusia di sektor energi Venezuela, yang merupakan alat pengaruh strategis kedua negara tersebut,” jelas dia.

Ia pun menyimpulkan bahwa invasi 3 Januari 2026 tersebut adalah titik konvergensi dari tiga logika: geopolitik (hegemoni vs multipolaritas), geostrategi (kecepatan dan kejutan), dan geoekonomi (perebutan minyak). 

“Ini mencerminkan pergeseran paradigma dari perang atas ideologi (Perang Dingin) ke perang atas akses dan kontrol sumber daya strategis dalam era persaingan kekuatan besar baru. Tindakan ini berisiko memicu kontra-respons strategis dari Tiongkok atau Rusia yang bisa mengglobalkan konflik dan mempercepat fragmentasi tatanan ekonomi-internasional,” jelasnya lagi. 

“Pertanyaannya, mungkinkah Tiongkok atau Rusia atau keduanya akan membalas invasi AS tersebut? Apakah ini bargaining power terhadap pengepungan Taiwan oleh Tiongkok yang dilakukan sejak 29 Desember 2025 yang lalu, yang diramalkan akan pecah perang pada tahun 2026? Kita lihat saja,” tandas Surya.  


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya