Berita

pemimpin militer Manuel Noriega dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (Foto: Cibercuba)

Dunia

AS Tangkap Maduro, Ulangi Sejarah Penangkapan Noriega 36 Tahun Lalu

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 13:19 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat tidak hanya mengguncang tatanan geopolitik global, tetapi juga menghidupkan kembali ingatan akan invasi Panama serta penangkapan pemimpin militer Manuel Noriega pada tahun 1990.

Peristiwa tersebut dinilai mengulang sejarah karena terjadi tepat di tanggal yang sama 36 tahun silam. Pada 3 Januari 1990, Noriega secara resmi menyerah kepada militer AS setelah invasi Panama dalam operasi Just Cause, lalu diterbangkan ke Amerika Serikat untuk diadili. 

Mengutip Fox News, Maduro dilaporkan telah ditangkap dalam operasi militer AS di Venezuela pada Sabtu dini hari waktu setempat, 3 Januari 2025. 


Selain tanggal, pola penangkapan Maduro memperlihatkan kemiripan dengan kasus Noriega. Dalam kedua peristiwa itu, Washington tidak memperlakukan targetnya sebagai kepala negara yang memiliki kekebalan diplomatik, melainkan sebagai penjahat narkotika yang melanggar hukum Amerika Serikat.

Noriega lebih dulu didakwa pengadilan federal Florida pada 1988 atas tuduhan perdagangan narkoba. Sementara itu, Departemen Kehakiman AS pada 2020 mendakwa Maduro atas tuduhan “narko-terorisme” dan menyebutnya sebagai pemimpin jaringan kartel narkoba internasional, bahkan menawarkan hadiah 15 juta dolar AS untuk penangkapannya.

Pendekatan ini kerap disebut sebagai strategi hibrida, yakni mengombinasikan dakwaan hukum dengan operasi militer untuk menegakkan kepentingan keamanan AS di luar wilayahnya.

Manuel Noriega sendiri bukan selalu musuh Washington. Pada era 1980-an, ia merupakan penguasa de facto Panama sekaligus aset penting CIA di Amerika Latin dalam konteks Perang Dingin. 

Namun, hubungan itu memburuk ketika Noriega terlibat aktif dalam perdagangan narkoba bersama kartel Kolombia dan berbalik menunjukkan sikap anti-Amerika.

Puncak ketegangan terjadi pada Desember 1989 setelah seorang perwira militer AS tewas di Panama dan seorang perwira lain beserta istrinya diserang. 

Presiden George H.W. Bush kemudian memerintahkan invasi militer besar-besaran dengan mengerahkan sekitar 26.000 pasukan. Noriega melarikan diri ke Kedutaan Vatikan sebelum akhirnya menyerah pada 3 Januari 1990.

Meski memiliki pola penangkapan yang serupa, Panama dan Venezuela berada dalam konteks geopolitik yang sangat berbeda. 

Panama pada akhir 1980-an merupakan negara kecil dengan sekitar dua juta penduduk dan Noriega relatif terisolasi secara internasional. Venezuela, sebaliknya, adalah negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia dan memiliki hubungan strategis dengan Rusia dan China.

Dari sisi militer, invasi Panama dilakukan sebagai operasi perang terbuka untuk merebut ibu kota dan membubarkan angkatan bersenjata. 

Operasi terhadap Maduro disebut sebagai serangan presisi pasukan khusus yang menargetkan pucuk pimpinan, tanpa membubarkan militer reguler maupun milisi pro-pemerintah Venezuela yang dikenal sebagai colectivo.

Noriega akhirnya dijatuhi hukuman 40 tahun penjara di Amerika Serikat atas kasus narkoba dan pencucian uang, meski kemudian dikurangi dan dijalani selama 17 tahun. Ia meninggal dunia pada 2017 setelah berpindah-pindah antara penjara di AS, Prancis, dan Panama.

Maduro diperkirakan akan menghadapi proses hukum serupa di Amerika Serikat, yang berpotensi berujung hukuman penjara seumur hidup secara de facto. Namun, masa depan Venezuela dinilai jauh lebih kompleks dibanding Panama pasca-Noriega.

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Usai Raup Dana Jumbo, Danantara Diminta Transparan Soal Penyaluran Investasi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:13

SLA Lampaui Target, Helita jadi Andalan Baru Layanan Digital Tangsel

Sabtu, 20 Juni 2026 | 18:09

Garda Bangsa: Program Pemerintah Dirasakan Masyarakat, Harus Dikawal

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37

TVRI Jelaskan Proses, Cakupan, dan Distribusi Hak Siar FIFA hingga 2027

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:06

AMMSI: Penyesuaian Operasional MBG Perkuat Efisiensi Anggaran dan Tata Kelola Program

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:00

Ace Hasan Dorong Alumni UIN Jakarta Terus Berkontribusi untuk Bangsa

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:24

Program 3 Juta Rumah Dipercepat, Pemerintah dan Danantara Bahas Meikarta hingga Inpres Baru

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:08

Tiga Besar Fortune Southeast Asia 500, Pertamina: Motivasi Perkuat Ketahanan Energi

Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03

Saham Intel Melesat Usai Pernyataan Trump

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:32

Polisi Ungkap Rekayasa Perampokan di Menteng, Pelaku Dendam ke Korban Sejak 2020

Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:05

Selengkapnya