Berita

Direktur Pusat Riset Politik Hukum dan Kebijakan Indonesia Saiful Anam. (Foto: dokumentasi pribadi)

Politik

Koalisi Permanen Mengerdilkan Demokrasi Parpol

MINGGU, 04 JANUARI 2026 | 11:54 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pembentukan koalisi permanen yang diwacanakan Partai Golkar dinilai berpotensi menggerus nilai-nilai demokrasi serta mematikan kebaruan gagasan di tubuh partai politik.

"Jika koalisi permanen digulirkan maka semakin tidak ada perbedaan antara platform partai politik satu dengan lainnya," kata Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI) Saiful Anam kepada RMOL, Minggu, 4 Januari 2026.

Ia menegaskan koalisi besar yang bersifat permanen akan menghilangkan perbedaan platform dan identitas politik antarpartai, membuat partai kehilangan ruang untuk menyampaikan gagasan alternatif dan sikap kritis.


"Dengan adanya koalisi besar tidak ada lagi sekat politik, semua menjadi satu komando di bawah arahan tim koalisi," ujarnya.

Akademisi Universitas Sahid Jakarta itu membandingkan kondisi tersebut dengan praktik koalisi selama ini yang masih bersifat cair, sektoral, dan fleksibel sesuai kepentingan masing-masing partai.

Ia mengingatkan pemaksaan keseragaman pandangan dalam satu koalisi permanen justru berbahaya bagi demokrasi internal partai.

"Pandangan-pandangan yang berbeda dipaksa seragam. Tidak ada lagi perbedaan sikap antarpartai dalam koalisi," tegasnya.

Menurut Saiful, ketika perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman partai politik akan kehilangan daya inovasi serta semangat menawarkan gagasan baru kepada publik.

"Praktik politik semacam ini justru semakin mengerdilkan peran partai politik dalam membangun demokrasi yang matang," pungkasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya