Berita

Pertemuan Bahlil Lahadalia, Zulkifli Hasan, Muhaimin Iskandar, dan Sufmi Dasco Ahmad di Widya Chandra, Jakarta. (Foto: Instagram DPP Golkar)

Politik

Koalisi Permanen Sulit Terwujud karena Sejumlah Faktor

SABTU, 03 JANUARI 2026 | 11:21 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Wacana partai politik (parpol) pendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk membentuk koalisi permanen dinilai tidak mudah direalisasikan.

“Merealisasikan koalisi permanen tidak mudah,” ujar Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, kepada RMOL, Sabtu, 3 Januari 2026.

Menurut Jamiluddin, terdapat sejumlah faktor yang menjadi hambatan dalam pembentukan koalisi permanen. Salah satunya, koalisi permanen hanya berpeluang terwujud apabila partai-partai politik memiliki platform ideologi yang relatif sama.


“Prasyarat tersebut tidak ditemukan pada partai politik di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, partai politik di Indonesia umumnya menganut tiga corak ideologi, yakni nasionalis, religius, dan perpaduan nasionalis-religius. Namun, meskipun menganut ideologi yang sama, perbedaan corak tetap terlihat secara signifikan.

“PDIP, Gerindra, dan Golkar misalnya, meskipun sama-sama mengklaim berideologi nasionalis, coraknya berbeda. Begitu pula PKB dan PKS yang mengklaim berideologi religius, tetapi tetap memiliki perbedaan corak,” jelasnya.

Atas dasar itu, Jamiluddin menilai ideologi partai politik di Indonesia cenderung tidak tegas, sehingga menjadi kendala dalam membentuk koalisi permanen.

Selain persoalan ideologi, koalisi permanen juga dinilai bertentangan dengan tujuan dasar pendirian partai politik. Menurutnya, parpol didirikan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

“Oleh karena itu, koalisi permanen tidak sejalan dengan tujuan tersebut. Koalisi permanen menuntut pembagian kekuasaan di antara partai-partai yang berkoalisi,” katanya.

Masalahnya, lanjut Jamiluddin, pembagian kekuasaan merupakan hal yang sulit disepakati dan dipatuhi dalam jangka panjang. Kesepakatan mengenai pembagian kekuasaan yang adil, termasuk komitmen untuk menjaganya, tidak mudah dicapai.

Ia juga menyoroti makna koalisi permanen sebagai koalisi yang bersifat tetap dan tidak berubah dalam waktu lama. Menurutnya, hal ini tidak sejalan dengan prinsip politik yang mendahulukan kepentingan masing-masing partai.

“Kondisi ini semakin nyata karena partai politik di Indonesia cenderung pragmatis, sehingga kepentingan politiknya mudah berubah-ubah,” ujarnya.

Hal tersebut, kata Jamiluddin, menyulitkan upaya menyamakan kepentingan antarpartai dalam jangka panjang.

“Akibatnya, perubahan kepentingan politik masing-masing partai membuat koalisi mudah goyah,” pungkasnya.

Sebelumnya, empat pimpinan partai politik, yakni Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, serta Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan, menggelar pertemuan pada Senin, 29 Desember 2025.

Pertemuan tersebut diketahui publik setelah akun Instagram Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar mengunggah foto pertemuan tersebut.

Pertemuan itu disebut sebagai langkah awal penjajakan antarpimpinan partai terkait revisi sejumlah undang-undang politik. Salah satu isu yang mengemuka adalah usulan agar pemilihan kepala daerah (pilkada) dilakukan melalui DPRD.

Selain itu, pertemuan keempat tokoh politik tersebut juga membahas peluang pembentukan koalisi permanen sebagaimana digaungkan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

Populer

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Senator Apresiasi Program Kolaborasi Bedah Rumah di Jakarta

Selasa, 17 Maret 2026 | 18:32

10 Lokasi Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Nyepi 2026 di Bali, Catat Tempatnya

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:50

UPDATE

Kebijakan WFH Sehari Tunggu Persetujuan Presiden

Kamis, 26 Maret 2026 | 12:03

Tito Pastikan Skema WFH Sehari Tak Hambat Layanan Pemda

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:55

Purbaya Guyur Dana Lagi Rp100 Triliun ke Bank Himbara

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:45

Efisiensi Anggaran Harus Terukur dan Terarah

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:33

Pengamat Soroti Pertemuan Anies, SBY, dan AHY: CLBK Jelang 2029

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:22

Prabowo Tambah 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp239 Triliun

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:16

Efisiensi Energi Jangan Korbankan Pendidikan lewat Pembelajaran Daring

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:11

Emas Antam Mandek, Buyback Merosot ke Rp2,49 Juta per Gram

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:01

Akreditasi Dapur MBG Jangan Hanya Formalitas

Kamis, 26 Maret 2026 | 11:00

KSP: Anggaran Pendidikan Tak Dikurangi

Kamis, 26 Maret 2026 | 10:58

Selengkapnya