Berita

Ilustrasi anak lebih dari satu di Beijing, China. (Foto: Reuters)

Dunia

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

JUMAT, 02 JANUARI 2026 | 20:44 WIB | LAPORAN: SARAH ALIFIA SURYADI

Pemerintah China kembali mengubah pendekatan demografinya dengan memanfaatkan instrumen pajak.

Kebijakan ini menyusul kegagalan berbagai kebijakan pasca penghapusan one child policy dalam menahan penyusutan populasi. 

Reformasi ini mulai berlaku pada 1 Januari 2026, bertepatan dengan satu dekade berakhirnya kebijakan pembatasan satu anak yang pernah menjadi fondasi pengendalian penduduk China.


Dalam kebijakan terbaru tersebut, pemerintah mengenakan pajak sebesar 13 persen atas penjualan alat kontrasepsi, termasuk kondom dan obat pencegah kehamilan. 

Seiring dengan itu, Beijing menghapus sejumlah pengecualian pajak yang berlaku sejak 1994, membebaskan layanan penitipan anak dari pajak.

Data resmi menunjukkan hanya 9,54 juta bayi lahir pada 2024, turun untuk tahun ketiga berturut-turut dan hampir separuh dibandingkan satu dekade lalu. 

Namun, kebijakan ini masih memicu perdebatan. Sejumlah kalangan khawatir langkah ini berisiko meningkatkan kehamilan yang tidak direncanakan, memperbesar ancaman infeksi HIV, serta menambah tekanan sosial, terutama bagi perempuan.

Masyarakat juga memperingatkan bahwa pendekatan seperti itu dapat merusak kepercayaan publik.

"Partai (Komunis) tidak bisa tidak ikut campur dalam setiap keputusan yang mereka pedulikan. Jadi, pada akhirnya mereka menjadi musuh terburuk mereka sendiri dalam beberapa hal," ujar warga China, Levin, dikutip dari BBC, Jumat, 2 Januari 2026.

Presiden Xi Jinping sebelumnya menekankan pentingnya keamanan penduduk sebagai prioritas nasional. 

Meski begitu, para analis memperkirakan Beijing masih akan meluncurkan kebijakan tambahan untuk mendukung pernikahan dan kelahiran.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya