Berita

Ilustrasi

Publika

Mendung Demokrasi dan Ancaman Banjir Bandang Politik

SELASA, 30 DESEMBER 2025 | 19:29 WIB

MENGAKHIRI tahun 2025, rentetan banjir bandang melanda berbagai wilayah Indonesia. Peristiwa ini menegaskan satu hal penting, krisis ekologis bukan lagi peristiwa alam semata, melainkan akumulasi kebijakan yang mengabaikan daya dukung lingkungan. 

Penggundulan hutan, sawitisasi, dan tambangisasi wilayah hijau mencerminkan arah pembangunan ekstraktif yang menggerus fungsi ekologis alam sebagai penyangga kehidupan, sehingga risiko bencana kian membesar dan pada akhirnya harus ditanggung oleh rakyat.

Dalam perspektif sosiolog Ulrich Beck, kondisi ini menggambarkan apa yang ia sebut sebagai risk society masyarakat modern yang dihadapkan pada risiko-risiko yang diproduksi secara sosial (manufactured risks), bukan sekadar bencana alamiah. 


Risiko ekologis seperti banjir bandang lahir dari keputusan politik dan ekonomi yang terlembaga, sementara dampaknya justru paling berat dirasakan oleh mereka yang paling sedikit memiliki kuasa atas keputusan tersebut.

Namun yang digunduli hari ini bukan hanya hutan. Partisipasi rakyat dalam menentukan arah kebijakan publik pun kian menyempit. Di tengah dampak nyata krisis lingkungan, justru mencuat kembali wacana pengembalian pemilihan kepala daerah ke DPRD yang diinisiasi oleh elit partai penguasa. 

Atas nama efisiensi biaya pemilu, mekanisme demokrasi yang sebelumnya membuka ruang kontrol publik hendak ditarik kembali ke lingkaran elit—tepat ketika keputusan politik semakin menentukan keselamatan wilayah hijau dan kehidupan warga.

Padahal kepala daerah memegang peran strategis dalam pengelolaan tata ruang, pemberian izin konsesi, dan perlindungan lingkungan. Dari tangan merekalah ditentukan apakah suatu wilayah dijaga sebagai kawasan lindung atau dikorbankan demi kepentingan jangka pendek. 

Ketika proses pemilihannya menjauh dari rakyat, risiko lahirnya kebijakan yang abai terhadap dampak ekologis semakin besar. Dalam kerangka risk society, demokrasi yang melemah justru mempercepat produksi risiko karena keputusan penting diambil tanpa koreksi publik.

Penyempitan partisipasi ini menyimpan bahaya laten. Ketika suara warga terdampak banjir, longsor, dan krisis lingkungan tidak memperoleh saluran politik yang memadai, kekecewaan sosial akan mengendap dan terakumulasi. 

Beck mengingatkan, krisis risiko modern hampir selalu berkelindan dengan krisis demokrasi: semakin besar risiko yang diproduksi, semakin kecil ruang warga untuk ikut menentukan arah.

Jika hutan yang gundul melahirkan banjir bandang ekologis, maka demokrasi yang digunduli menyimpan ancaman banjir bandang politik. Mendung demokrasi mungkin belum pecah hari ini, tetapi ketika ruang partisipasi terus ditutup, risiko itu kian nyata. 

Dalam situasi krisis ekologis, yang dibutuhkan bukan menarik demokrasi ke belakang, melainkan memperkuatnya sebagai ruang refleksi kolektif agar rakyat sebagai pemilik sah demokrasi dapat mengoreksi arah pembangunan dan mengelola risiko yang kita ciptakan sendiri.

Alip Purnomo
Koordinator Forum Silaturahmi Alumni Universitas Indonesia

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

UPDATE

Jaga Produktivitas dan Kelestarian, Agrinas Palma-BNPB Sinergi Tangkal Karhutla

Selasa, 03 November 2026 | 14:10

Kerja Sama Korea-Indonesia Perkuat Transformasi Digital Koperasi

Selasa, 03 November 2026 | 14:06

Gibran Selalu Dibela Mati-matian oleh Barisan Pendukungnya

Selasa, 03 November 2026 | 14:01

KPK Lepas Dua Pejabat Asal Kejagung, Mungki Hadipratikto Bakal Bertugas di BGN

Selasa, 03 November 2026 | 14:00

Babak Baru Piala Asia 2027, Alasan dan Jadwal Terbaru Penundaan Turnamen

Selasa, 03 November 2026 | 13:56

Kemlu Benarkan Dua WNI Tewas Saat Memancing di Jepang

Selasa, 03 November 2026 | 13:49

Fraksi Gerindra Belum Bersikap soal Putusan MA terkait Gibran

Selasa, 03 November 2026 | 13:45

Ketua KPK Pastikan Dalam Waktu Dekat Panggil Nusron Wahid

Selasa, 03 November 2026 | 13:35

PKS Minta Pemerintah Bebaskan PPN Produk Pembalut

Selasa, 03 November 2026 | 13:29

Soal Boikot Raffi Ahmad, Sosiolog Ingatkan Tanda Kehancuran Negara Bersumber dari Internal

Selasa, 03 November 2026 | 13:11

Selengkapnya