Berita

Wakil Gubernur (Wagub) Bangka Belitung (Babel) Hellyana. (Foto: Antara)

Publika

Wagub Babel Hellyana seperti Sendirian

SABTU, 27 DESEMBER 2025 | 06:21 WIB

KADANG kasihan lihat Bu Wakil Gubernur (Wagub) Bangka Belitung (Babel) Hellyana. Ditersangkakan polisi gara-gara dugaan ijazah palsu. 

Dramanya sangat pendek, polisi sangat gerak cepat. Berbeda dengan kasus ijazah yang lain. 

Pulau Belitung pagi itu terasa seperti adegan pembuka film Laskar Pelangi versi politik. Matahari menyinari pantai granit, ombak bergulung tenang, tapi di daratan, badai administratif sedang menghantam Wakil Gubernurnya. 


Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, berdiri bak mercusuar di Tanjung Kelayang. Tinggi, tegak, tapi memberi sinyal bahwa kapal yang karam itu bukan miliknya. 

“Ini urusan pribadi,” katanya. Pribadi. Sebuah kata yang diucapkan seringan pasir putih Belitung, padahal bobotnya sekeras batu granit.

Publik pun tertegun. Lah, bukankah Hidayat dan Hellyana dulu berlayar dengan perahu yang sama, diikat tali politik yang sama, berfoto dengan senyum yang sama, dan dilantik dengan sumpah yang sama? 

Tapi sang gubernur memilih posisi aman, seperti nelayan yang tiba-tiba mengaku cuma numpang duduk di perahu saat badai datang. 

Jangan dikaitkan, katanya. Ini ranah hukum. Selesai. Bahkan ia menambahkan jurus pamungkas, saat maju sebagai calon wagub, Hellyana pakai ijazah SMA. Bukan ijazah sarjana yang sekarang dipersoalkan. 

Logika ini disajikan seperti mie Belitung, gurih di awal, tapi bikin mikir di akhir.

Masalahnya, badai ini tidak muncul dari langit biru. Ia datang dari laporan seorang mahasiswa Universitas Bangka Belitung, Ahmad Sidik, yang tampaknya bosan melihat batu granit keadilan hanya jadi hiasan pantai. 

Pada 21 Juli 2025, ia melangkah ke Bareskrim Mabes Polri dengan membawa bukti awal, tangkapan layar PDDIKTI, fotokopi ijazah Sarjana Hukum Universitas Azzahra, dan surat edaran Pemprov Babel yang ditandatangani Hellyana lengkap dengan gelar “SH”. Gelar kecil, tapi dampaknya seperti ombak musim angin timur.

Cerita makin epik saat diketahui Universitas Azzahra, kampus asal ijazah itu, sudah ditutup pemerintah lewat SK Kemendikbudristek Nomor 370/E/O/2024. 

Kampusnya tutup, tapi ijazahnya masih jalan. Seperti mercusuar mati yang masih dipakai kapal sebagai penunjuk arah. Absurd, tapi nyata.

Lalu datanglah klimaks ala film layar lebar. Surat penetapan tersangka tertanggal 17 Desember 2025 beredar, lengkap dengan nomor panjang yang terdengar seperti mantra hukum. 

Hellyana dijerat pasal berlapis, pemalsuan surat, pemalsuan akta autentik, hingga penggunaan gelar akademik yang diduga tak sah. 

Pasalnya berderet seperti batu-batu granit di Pantai Tanjung Tinggi, besar, keras, dan sulit dielakkan.

Bareskrim membenarkan. Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengucapkan kalimat singkat tapi menghentak, “Iya benar.”

Namun drama belum selesai. Di warung kopi Manggar sampai sudut-sudut Pangkalpinang, muncul pertanyaan yang lebih tajam dari duri ikan, kenapa cuma wagub? 

Bukankah proses pencalonan melewati partai politik dan KPUD dengan verifikasi berlapis-lapis, katanya seketat jaring nelayan Belitung? Kalau semua itu berjalan, bagaimana ijazah bermasalah bisa lolos sampai panggung kekuasaan? Kalau hulunya bocor, kenapa hilirnya saja yang disalahkan?

Ada pula bisik-bisik yang lebih pahit dari kopi hitam: mungkin Hellyana mudah ditersangkakan karena tak punya beking kuat. Dalam politik kita, hukum kadang seperti perahu wisata, kuat menampung yang berduit, tapi mudah oleng kalau penumpangnya sendirian.

Hidayat berharap Hellyana menyelesaikan kasus ini dengan baik di Mabes Polri. Kalimat yang terdengar manis, tapi dinginnya seperti angin laut malam hari. 

Pulau Belitung pun kembali jadi saksi, satu kapal karam, banyak yang berpura-pura tidak ikut berlayar. Granit tetap diam, tapi rakyat mencatat.

Batu granit tepi pantai
Ombak tenang pagi hari
Satu jabatan mulai tercecai
Tegak goyang dihadapi sendiri

Laskar pelangi pandang langit
Kopi Manggar pahit legit
Saksi pelangi pandang sulit
Nyali longgar semakin terhimpit

Mercusuar tegak malam sepi
Perahu karam laut bertepi
Kekuasaan tegak hukum menjadi
Tersangka karam aturan sunyi
.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya