Berita

FGD bertajuk 'Diplomasi Biru: Strategi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Sektor Kelautan dan Perikanan’ di Kampus FHUI, Depok, Jawa Barat, Senin, 22 Desember 2025. (Foto: Dokumentasi Surya Wiranto)

Politik

Diplomasi Biru Perlu Ditopang Keamanan Maritim yang Mumpuni

SELASA, 23 DESEMBER 2025 | 00:18 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Biodiversity Beyond National Jurisdiction/BBNJ (Keanekaragaman Hayati di Luar Yurisdiksi Nasional) yang merujuk pada perjanjian internasional baru diadopsi PBB untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati laut di area lepas pantai. 

Area tersebut tidak berada di bawah hukum negara manapun. Indonesia telah meratifikasinya ke dalam Peraturan Presiden Nomor 67 tahun 2025, sehingga perlu pembahasan lebih lanjut dalam implemnetasi BBNJ. 
 
Hal itu menjadi topik hangat dalam diskusi publik bertajuk 'Diplomasi Biru: Strategi Kebijakan Luar Negeri Indonesia di Sektor Kelautan dan Perikanan’ yang diselenggarakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Center for Sustainability Ocean Policy (CSOP) Fakultas Hukum Universitas Indonesia di Kampus FHUI, Depok, Jawa Barat, Senin, 22 Desember 2025.


Dalam kesempatan itu, Senior Advisory Group IKAHAN Indonesia-Australia, Laksda TNI (Purn) Surya Wiranto menjelaskan penguatan diplomasi biru butuh strategi diplomasi keamanan maritim yang memadai. 

“Saya menyampaikan satu hal yang menurut saya penting yaitu blue security diplomacy. Blue economy itu ujungnya kesejahteraan, karena antara ekonomi dan security itu dua mata uang yang saling memerlukan,” kata Surya.

Lanjut dia, perlu penguatan dalam pengawasan untuk yurisdiksi Indonesia. Kemudian berdasarkan UNCLOS 1982 yang mencakup yurisdiksi meliputi ZEE, Zona Tambahan dan Landas Kontinen. 

“Ini yang perlu kita optimalkan dalam penjagaan di yurisdiksi. Ada 6 stakeholder kemaritiman, 3 di antaranya hanya di perairan dalam, 3 lagi baru yang mencapai yurisdiksi yaitu Angkatan Laut, Bakamla dan PSDKP KKP, lalu pertanyaannya untuk BBNJ itu siapa yang ngurusi?” tegasnya.

Oleh karena itu, penasihat Indopacific Strategic Intelligence (ISI) menyebut perlu peran optimal dari TNI AL dan Bakamla dalam penanggulangan ancaman di wilayah yurisdiksi Indonesia.   

“Ini menarik dengan rencana yang mau kita susun. Security dan prosperity ini sama, mengingat banyak ancaman-ancaman di laut maka perlu security yang mengurusi ini,” pungkasnya.
 
Sementara itu, Senior Assistant Professor Universitas Indonesia Ardhitya Eduard Yeremia Lalisang, menyampaikan bahwa diplomasi Indonesia bukan hanya menyangkut masalah kepentingan nasional saja, tapi bicara sumbangsih untuk kemajuan bersama.
 
“Apa yang bisa kita sumbangsihkan untuk kepentingan bersama? Ini penting. Kalau kita bicara green (hijau), Indonesia selalu kalah cepat dari negara lain, nah untuk blue-blue ini kesempatan kita untuk bisa memberikan pada dunia,” jelasnya. 
 
Perjanjian BBNJ yang baru diratifikasi ini bertujuan untuk mengatasi kekosongan hukum UNCLOS 1982, mencakup sumber daya genetik kelautan, kawasan lindung laut, penilaian dampak lingkungan, serta pengembangan kapasitas.
 

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya