Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Istimewa)

Politik

Dominasi Investasi China Tak Boleh Menghalangi Penegakan Hukum Kasus TNI

SENIN, 22 DESEMBER 2025 | 11:10 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Penyikapan Presiden Prabowo Subianto terhadap insiden penyerangan 15 Warga Negara Asing (WNA) China terhadap prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI), tak bisa dipengaruhi oleh dominasi investasi yang ada di dalam negeri.

Pengamat Citra Institute, Efriza menilai, pertimbangan Presiden Prabowo sebagai Kepala Pemerintahan Republik Indonesia (RI) terkait penegakan hukum, tak tepat jika memakai pertimbangan politik ekonomi yang khususnya terkait dominasi investasi China di dalam negeri.

"Sikap presiden penting untuk mengirim pesan bahwa di era kepemimpinannya tidak ada toleransi terhadap tindakan yang merendahkan TNI sebagai simbol pertahanan negara," ujarnya kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 22 Desember 2025.


"Sekaligus menegaskan bahwa keterbukaan terhadap investasi, perlindungan negara terhadap WNA, juga tidak berarti akan terjadi kompromi terhadap hukum dan wibawa negara," sambung Efriza.

Magister Ilmu Politik Universitas Nasional (UNAS) itu memandang, penegakan hukum tetap harus berjalan terhadap 15 WNA China yang melakukan penyerangan terhadap prajurit TNI di Kalimantan Barat (Kalbar).

"Untuk menegaskan kedaulatan, lalu perlindungan aparat, sekaligus juga jaminan keselamatan keamanan warga negara asing di Indonesia," ucapnya.

Lebih dari itu, Efriza mendorong Presiden untuk menyampaikan sikapnya ke muka umum, sebagai bentuk kedaulatan negara yang tidak bisa dikaitkan dengan dominasi investasi China di Indonesia.

"Negara tidak boleh terlihat kalah oleh WNA, terlebih ketika yang menjadi korban adalah aparat TNI, sebab hal itu dapat menimbulkan preseden buruk dan persepsi lemahnya otoritas negara di wilayah kedaulatannya sendiri," demikian Efriza menambahkan.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya