Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

Pasar Kripto Bergolak: Investor Mulai Selektif dan Waspada

KAMIS, 18 DESEMBER 2025 | 13:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga Bitcoin yang terus merosot seiring kejatuhan pasar Kripto mendorong investor untuk lebih berhati-hati dan mengubah strategi agar risiko bisa lebih terkontrol.

Dalam beberapa tahun terakhir, pilihan investasi kripto berkembang sangat pesat. Investor kini tidak hanya membeli aset kripto secara langsung, tetapi juga berinvestasi melalui ETF kripto spot, instrumen derivatif seperti opsi dan kontrak berjangka, saham perusahaan penambangan, perusahaan yang menyimpan kripto sebagai cadangan aset, hingga bursa dan penyedia infrastruktur kripto. 

Pasar kripto global tengah mengalami koreksi signifikan. Pada Oktober lalu, harga Bitcoin anjlok hingga 36 persen dari rekor tertingginya di level 126.223 Dolar AS.  Kondisi ini memaksa investor ritel maupun institusi untuk mengubah strategi demi mengontrol risiko.


Perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai cadangan aset, seperti Strategy Inc dan Metaplanet, mengalami kemerosotan saham hingga lebih dari 50 persen akibat valuasi yang terlalu mahal dan penggunaan utang (leverage) yang tinggi.

Perusahaan penambang kripto (seperti IREN dan MARA) mulai mendiversifikasi bisnis ke pusat data AI untuk menjaga profitabilitas dan memanfaatkan kontrak listrik murah.

Strategi investasi yang dikelola aktif dengan hedging (lindung nilai) terbukti lebih tangguh. Contohnya, VanEck Onchain Economy ETF yang mencatat imbal hasil 32 persen karena menghindari perusahaan dengan beban utang tinggi.

Meski pasar bergejolak, Bitcoin tetap menjadi aset utama. Dana abadi Universitas Harvard serta dana kekayaan negara (Luksemburg, Abu Dhabi, dan Ceko) dilaporkan terus memperkuat kepemilikan Bitcoin mereka.

Pasar kripto kini mulai menyerupai pasar tradisional dengan infrastruktur yang lebih teregulasi. Keberhasilan investasi ke depan sangat bergantung pada pemahaman risiko dan efektivitas perlindungan nilai, bukan sekadar spekulasi harga.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Jaga Energi dan Cairan, Tantangan 14.000 Pelari Maybank Marathon 2026

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:25

Bawa Hasil Riset UGM ke Bursa, SWAP Bidik Dana Segar Rp45 Miliar Lewat IPO\

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:14

BEI Agendakan RUPSLB, Catat Syarat Kehadirannya

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:00

Iran Anggap Negara Pendukung Perang Ekonomi AS sebagai Musuh

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:21

ASBI Laporkan Dugaan Penggelapan ke BEI-OJK, Enam Pihak Jadi Terlapor

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:03

Hasil Penelitian Ungkap Air Galon Guna Ulang Tak Berisiko Kanker

Senin, 24 Agustus 2026 | 07:02

Pemuda Katolik NTT Berangkatkan Puluhan Relawan ke Flores

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:42

PAN Launching Lapor PAN dan PANsar Murah

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:27

Pertina Bawa Polemik Legalitas ke PTUN dan PN Jakpus

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:14

TNI AL Berhasil Operasi Patah Tulang Korban Gempa NTT di KRI

Senin, 24 Agustus 2026 | 06:02

Selengkapnya