Berita

Ditjen PHU mempersembahkan sebuah karya monumental, buku berjudul ‘Haji Indonesia Era Kementerian Agama’ (Foto: Kemenag)

Nusantara

Penghormatan 75 Tahun Pengabdian: Memori Kolektif Haji dalam Buku Pamungkas Ditjen PHU

RABU, 17 DESEMBER 2025 | 07:48 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Tahun 2025 menjadi penutup dari sebuah babak panjang. Penyelenggaraan haji tahun ini resmi menjadi tugas terakhir bagi Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Ditjen PHU) Kementerian Agama. Mulai tahun depan, estafet tanggung jawab pengelolaan haji akan berpindah ke Kementerian Haji dan Umrah yang baru dibentuk.

Sebagai penanda perpisahan dan warisan sejarah, Ditjen PHU mempersembahkan sebuah karya monumental yaitu buku berjudul ‘Haji Indonesia Era Kementerian Agama’. 

Buku ini diserahkan kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar dan jajaran pimpinan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Kemenag di Tangerang Selatan, Selasa 16 Desember 2025. Momen penyerahan oleh Dirjen PHU, Hilman Latief, ini sekaligus menjadi ajang perpisahan Ditjen PHU dari tugas utamanya.


"Kami bersyukur haji terakhir sukses dilakukan Kemenag. Tahun depan, pelaksanaan haji diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah," ujar Hilman Latief.

Meski pelaksanaan Haji 2025 dianggap sebagai tantangan terberat karena kompleksitas dan dinamikanya, hasilnya justru terbilang sukses besar. Bahkan, Pemerintah Arab Saudi memberikan pujian sebagai penyelenggaraan haji terbaik sepanjang masa, didukung oleh indeks kepuasan jemaah yang tetap tinggi dan masuk kategori sangat memuaskan.

Hilman mengenang betapa pentingnya sejarah 75 tahun penyelenggaraan haji di bawah Kemenag. Ia terinspirasi oleh pesan Menteri Agama yang mendorong Kemenag untuk tetap berperan dengan menyusun sebuah dokumen yang menjadi memori kolektif bagi umat Islam Indonesia.

“Hari ini kami persembahkan buku ‘Haji Indonesia Era Kementerian Agama’. Mudah-mudahan buku ini bisa sampai pada para pemangku kepentingan untuk menjadi pegangan dan memori kolektif Kemenag,” harapnya.

Buku ini bukan sekadar catatan biasa, melainkan karya akademik yang digarap serius. Proses penyusunannya dikoordinasi oleh Sesditjen PHU, M Arfi Hatim, bersama tim dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten.

Menurut M Arfi Hatim, buku setebal *2.300 halaman* ini disusun dalam waktu yang relatif singkat setelah musim haji.

"Ini boleh jadi merupakan buku paling tebal tentang haji Indonesia yang isinya komprehensif,” ujar M Arfi.

Ia menambahkan bahwa buku ini ditulis berdasarkan sumber primer milik Kementerian Agama dan referensi kredibel, sehingga memenuhi standar akademik. Penyuntingan dipercayakan kepada Hadi Rahman dan Oman Fathurahman, filolog terkemuka yang juga dikenal sebagai editor buku 'Naik Haji di Masa Silam'.

Karya monumental ini terbagi dalam tiga jilid yang saling melengkapi.

1.  Jilid Satu: Dari Masa ke Masa, memuat narasi kronologis penyelenggaraan haji dari tahun 1950 hingga 2025.
2.  Jilid Dua: Ekosistem dan Kebijakan, berisi narasi tematik dan argumentatif mengenai berbagai kebijakan yang terbit selama 75 tahun Kemenag mengelola haji.
3.  Jilid Tiga: Adaptasi dan Inovasi, menjelaskan perjalanan inovasi dalam penyelenggaraan ibadah haji.

“Tiga jilid buku itu masing-masing punya sudut pandang, tapi merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan,” tutup M Arfi Hatim.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya