Berita

Gubernur Aceh, Muzakir Manaf. (Foto: Dok. RMOLAceh)

Publika

Aceh Tidak Sedang Mengemis

SELASA, 16 DESEMBER 2025 | 04:12 WIB

GUBERNUR Aceh Muzakir Manaf alias Mualem sepertinya “geram” dengan pemerintah pusat.  Para profesor Aceh sampai kirim surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. 

Status darurat nasional dianggap masih belum penting. Dengan sikap gagah, sang Gubernur secara resmi minta bantuan internasional. 

Aceh akhirnya melakukan sesuatu yang oleh sebagian orang disebut “berani”, oleh sebagian lain disebut “nekat”, dan oleh warga pengungsian disebut “alhamdulillah, akhirnya ada yang mikir jauh". 


Mualem di tengah lumpur setinggi lutut, listrik putus-putus, dan angka korban yang naik seperti grafik saham gorengan, mengirim surat ke UNDP dan UNICEF. 

Bukan surat cinta, bukan surat keluh kesah, tapi surat yang isinya kira-kira begini: dunia, tolong lihat kami, ini bukan banjir biasa, ini kiamat versi basah.

Mari kita jujur. Kalau korban sudah tembus 1.030 jiwa, pengungsi mendekati angka satu kota kecil, dan longsor masih hobi turun tiap hujan, lalu masih ada yang bertanya, “Kenapa minta bantuan internasional?”. Itu bukan pertanyaan kritis, itu pertanyaan dari orang yang rumahnya masih kering dan sinyal WiFi-nya lancar. 

Bagi Aceh, banjir bandang dan longsor ini bukan sekadar bencana alam, ini paket kombo: air, lumpur, trauma sejarah, dan administrasi yang jalannya pakai sandal jepit putus.

Mualem tahu betul, Aceh punya memori kolektif bernama tsunami 2004. Memori itu bukan kenangan Instagram, tapi luka yang masih nyeri kalau ditekan sedikit. 

Saat itu, dunia datang, PBB datang, lembaga internasional datang, dan Aceh bangkit. Ketika hari ini Aceh kembali berdarah, secara harfiah dan sosial, logikanya sederhana, kalau dulu berhasil dengan solidaritas global, kenapa sekarang harus sok kuat sendirian?

UNDP diminta bukan buat pasang baliho motivasi, tapi buat mikirin pembangunan berkelanjutan yang waras, rekonstruksi yang tidak asal tambal, dan memperkuat pemerintah daerah supaya ke depan tidak cuma jago bikin laporan, tapi juga siap menghadapi bencana. 

UNICEF diminta karena di tenda-tenda pengungsian itu bukan cuma ada orang dewasa, tapi anak-anak yang sekolahnya hanyut, gizinya terancam, dan masa depannya ikut basah. Ini bukan drama, ini fakta lapangan.

Lalu muncul suara-suara sakti, “Eh, ini kan urusan luar negeri, harus lewat pusat.” Betul. Semua juga tahu. Bahkan Mualem pun tahu. Surat itu bukan bypass Presiden, bukan kudeta diplomatik, bukan juga Aceh mau buka kedutaan sendiri. 

Itu sinyal. Alarm. Teriakan dari daerah yang bilang, “Kami butuh bantuan besar, sekarang.” Mendagri bilang akan dipelajari, dan itu wajar. Tapi mempelajari bencana sambil korban bertambah tiap hari itu seperti membaca manual payung saat hujan sudah badai.

Lucunya, sebelum surat itu dikirim, Malaysia sudah datang dengan obat-obatan dan tim medis, Tiongkok sudah kirim tim SAR dengan seragam biru. 

Mereka datang bukan karena Aceh viral, tapi karena bencananya memang segede itu. Solidaritas internasional sudah jalan di lapangan, sementara sebagian elite masih sibuk memastikan stempel dan tanda tangan rapi.

Di tengah semua ini, Dewan Profesor Aceh menulis surat terbuka ke Presiden Prabowo. Isinya bukan basa-basi akademik, tapi tamparan moral. 

Ini sudah layak bencana nasional, jangan tunggu rakyat habis dulu baru statusnya naik kelas. Mereka mengingatkan tsunami, trauma, dan kewajiban negara melindungi rakyat. Ini bukan oposisi, ini jeritan orang-orang berpendidikan yang masih punya hati.

Presiden Prabowo sendiri sudah dua kali datang ke Aceh. Turun ke pengungsian, minta maaf soal listrik, duduk satu mobil dengan Mualem. Simbolnya jelas, pusat dan daerah sedang berusaha satu barisan. 

Tapi simbol tanpa percepatan itu seperti foto keluarga tanpa makan malam, hangat di gambar, lapar di perut.

Maka ketika Mualem menyurati UNDP dan UNICEF, itu bukan aksi cari panggung, bukan juga drama politik. 

Itu keputusan realistis dari pemimpin daerah yang melihat angka korban, mendengar tangisan pengungsi, dan sadar bahwa menunggu terlalu lama itu sama saja dengan membiarkan bencana bekerja lembur. 

Dalam situasi begini, keberanian bukan melanggar aturan, tapi berani mengatakan bahwa kapasitas nasional perlu ditopang solidaritas global.

Aceh tidak sedang mengemis, Aceh sedang menyelamatkan warganya. Kalau ada yang masih sibuk memperdebatkan prosedur sambil duduk nyaman di ruangan ber-AC, mungkin yang perlu disurati berikutnya bukan UNDP atau UNICEF, tapi nurani kolektif kita sendiri.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya