Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

INDEF: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023-2025 Stabil, Tapi Belum Beri Lompatan Nyata

KAMIS, 11 DESEMBER 2025 | 14:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Selama tiga tahun terakhir, ekonomi Indonesia mencatat pertumbuhan rata-rata 5,04 persen per tahun. Angka ini terlihat stabil dalam laporan resmi pemerintah. 

Namun, menurut Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto, stabilitas tersebut belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

Eko menegaskan bahwa pertumbuhan 5 persen tidak otomatis berarti ekonomi yang sehat jika tidak dibarengi peningkatan daya beli, penciptaan pekerjaan yang layak, dan investasi yang benar-benar produktif. 


“Stimulus yang tidak tepat sasaran hanya memberi efek sesaat,” ujarnya, dalam keterangan yang dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 11 Desember 2025.


Di Balik Angka Stabil, Ada Sinyal Kehati-hatian

Eko mengungkapkan beberapa indikator yang patut dicermati. Pertama, konsumsi rumah tangga melambat. Ia menggarisbawahi pertumbuhan yang hanya 4,89-4,94 persen, lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi. Padahal, konsumsi merupakan motor utama yang menyumbang sebagian besar aktivitas ekonomi nasional.

Kedua, deflasi berkepanjangan. Deflasi yang muncul pada Mei?"September 2024 dan berlanjut awal 2025 membuat konsumen dan pelaku usaha menahan belanja karena menunggu harga turun. Hasilnya: permintaan melemah dan ekonomi rentan spiral negatif.

Ketiga, penurunan investasi asing langsung (FDI). FDI merosot 8,87 persen pada kuartal III 2025, mencerminkan keraguan investor terhadap arah kebijakan, kepastian regulasi, perpajakan, hingga kesiapan infrastruktur.


Ada Kemajuan, Tapi Tantangan Struktural Menumpuk

Meski kritis, Eko mengapresiasi pencapaian tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terutama keberhasilan menjaga inflasi tetap rendah di sekitar 2,86 persen. Stabilitas harga dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan jangka menengah.

Namun, tantangan terbesar tetap pada daya beli masyarakat, yang memegang peran 50-60 persen dalam pertumbuhan ekonomi.

“Pemerintah perlu memperkuat pendapatan masyarakat, menjaga harga pangan tetap stabil, dan memperluas program yang langsung menyentuh daya beli,” kata Eko.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sektor pertanian dan UMKM, termasuk profesionalisasi koperasi desa agar mampu menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan yang baru sekitar 8 persen dinilai belum mampu mendukung target pertumbuhan 5,4 persen di 2026. “Kredit harus dipercepat ke kisaran 12-15 persen,” ujarnya.

INDEF merekomendasikan tujuh prioritas kebijakan untuk mencapai target pertumbuhan 5,4 persen 2026, di antaranya adalah fokus pada peningkatan daya beli riil, akselerasi kredit perbankan, penciptaan lapangan kerja yang cukup, belanja pemerintah yang produktif, hilirisasi mineral yang berkelanjutan, penyederhanaan regulasi, serta optimalisasi program UMKM dan pertanian.

Eko mengingatkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama lebih dari satu dekade stagnan di kisaran 5 persen menandakan perlunya peremajaan fundamental arah pembangunan nasional.

"Tantangan terbesar bukan hanya angka pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut menghasilkan keadilan sosial-ekonomi yang merata," tegasnya.

Dengan strategi yang tepat dan eksekusi konsisten, Eko optimistis Indonesia dapat keluar dari "jebakan pertumbuhan 5 persen" menuju pertumbuhan yang lebih inklusif dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya