Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Global

Indonesia Jadi Salah Satu Negara Terdampak Kenaikan Suhu Panas

KAMIS, 11 DESEMBER 2025 | 07:55 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Planet Bumi kembali mencatat rekor mengkhawatirkan. Badan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan bahwa tahun 2025 berpotensi menjadi tahun terpanas kedua dalam sejarah seperti tahun 2023 dan hanya berada di bawah rekor terpanas yang terjadi pada 2024.

Laporan bulanan Copernicus menunjukkan bahwa suhu rata-rata global dari Januari hingga November meningkat 1,48°C di atas level pra-industri. Angka ini mendekati ambang batas 1,5°C yang disepakati dalam Perjanjian Paris sebagai batas aman untuk mencegah dampak iklim paling berbahaya.

Samantha Burgess, pakar iklim Copernicus, menyebut bahwa rata-rata suhu tiga tahun terakhir (2023-2025) kemungkinan melampaui batas 1,5 derajat Celcius untuk pertama kalinya. 


“Tonggak-tonggak sejarah ini bukanlah hal yang abstrak, tonggak-tonggak ini mencerminkan percepatan perubahan iklim, dan satu-satunya cara untuk menahan kenaikan suhu di masa depan adalah menurunkan emisi gas rumah kaca secara cepat," ujarnya, dikutip dari Japan Times, Kamis 11 Desember 2025.

November lalu juga tercatat sebagai November terpanas ketiga dalam sejarah, dengan suhu mencapai 1,54 derajat Celcius di atas era pra-industri. Kenaikan kecil seperti ini terlihat sepele, namun para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan ini sudah cukup untuk memicu cuaca ekstrem yang lebih sering dan lebih parah.

Dampaknya sudah nyata. Asia Tenggara diterjang serangkaian bencana: Filipina dilanda topan yang menewaskan sekitar 260 orang, sementara Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami banjir besar. Suhu musim gugur di belahan bumi utara (September-November) juga menjadi yang tertinggi ketiga sepanjang catatan.

Copernicus memantau perubahan iklim menggunakan data miliaran pengukuran cuaca dari darat, laut, dan satelit sejak 1940. Mereka menegaskan bahwa pemanasan global didorong oleh emisi manusia, terutama dari pembakaran bahan bakar fosil sejak revolusi industri.

Meski negara-negara sepakat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam KTT Iklim COP28 tahun 2023, kemajuan nyata masih lambat. Bahkan, hasil pertemuan COP30 di Brasil tahun lalu gagal menghasilkan komitmen baru untuk menghentikan penggunaan minyak, gas, dan batu bara.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya