Berita

Kondisi lingkungan masyarakat di wilayah Sumatra Utara, pasca bencana banjir terdapat gelodongan kayu. (Foto: Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Nusantara

Banjir Sumatera Peringatan Keras agar Tata Kelola Hutan Wajib Dibongkar Total

SABTU, 06 DESEMBER 2025 | 08:18 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bencana banjir ekstrem yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat bukan hanya musibah biasa, melainkan peringatan keras bagi Pemerintah untuk melakukan pembenahan total terhadap kebijakan lingkungan, iklim, dan tata kelola hutan.

Greenpeace - yang telah mendesak Pemerintah agar segera menetapkan status Bencana Nasional di wilayah terdampak dan mengerahkan bantuan cepat, sekaligus memulai audit besar-besaran terhadap izin-izin di kawasan hutan--, mengungkapkan bahwa banjir besar di Sumatera diyakini dipicu oleh dua kombinasi mematikan.

Pertama, krisis iklim. Hal ini diperparah oleh fenomena langka Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka yang memicu hujan ekstrem. Menurut Greenpeace, cuaca ekstrem ini akan terus menghantui dan mengancam nyawa sebagai konsekuensi langsung dari krisis iklim.


Kedua, kerusakan hutan kritis. Kerusakan hutan parah, terutama di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), menjadi faktor yang memperbesar dampak banjir.

Analisis Greenpeace menemukan, mayoritas DAS di Sumatera kini berada dalam kondisi kritis, dengan tutupan hutan alam kurang dari 25 persen. Secara keseluruhan, hutan alam Sumatra hanya tersisa 10-14 juta hektare, atau kurang dari 30 persen dari luas pulau.

Salah satu kawasan yang rusak parah adalah DAS Batang Toru, Sumatera Utara. Di sana, 21 persen kawasan mengalami deforestasi (tahun 1990-2022), dengan 28 persen total wilayah telah dibebani izin industri rakus lahan seperti PLTA, pertambangan, dan sawit. Potensi erosi tahunan di kawasan ini mencapai 31,6 juta ton!

Arie Rompas, Kepala Tim Kampanye Hutan Greenpeace, menyatakan pemerintah harus mengakui kegagalan dalam tata kelola hutan. Kerusakan besar di Sumatera bukan hanya disebabkan oleh penebangan liar, tetapi juga deforestasi masif yang dilegalkan negara demi kerakusan korporasi.

“Dengan krisis iklim yang semakin memburuk, deforestasi dan penurunan drastis kemampuan lingkungan akan menjamin meningkatnya kerusakan saat cuaca ekstrem terjadi,” katanya, dalam keterangan yang dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 6 Desember 2025.

Greenpeace pun mendesak pemerintah agar melakukan beberapa langkah ini.

Pertama, audit total izin. lakukan evaluasi dan audit menyeluruh terhadap semua izin ekstraktif dan berbasis lahan di Sumatera.

Kedua, aksi iklim ambisius. hentikan solusi palsu seperti biofuel dalam kebijakan iklim nasional. Kebijakan harus dialihkan untuk memastikan kelayakhunian bagi masyarakat, bukan mengutamakan segelintir pihak.

Ketiga, lindungi wilayah lain. hentikan pula perusakan hutan di wilayah lain, seperti pertambangan nikel di Raja Ampat dan rencana deforestasi besar-besaran di Merauke, Papua Barat, dengan dalih produksi skala industri.

Greenpeace menegaskan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen tidak akan pernah tercapai jika lingkungan terus dirusak dan bencana iklim terus mengancam.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Keputusan Pemerintah Batasi Ekspor Gas ke Singapura Sangat Tepat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:57

IHSG, Selat Malaka dan Ujian Kedaulatan Ekonomi Indonesia

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:41

MKD Diminta Bersikap Tegas Sikapi Laporan Dugaan KDRT Anggota Dewan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 01:20

Singapura, Dino Patti Djalal dan Opini Sesat

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:45

Bareskrim Tahan WN Taiwan Manajer Kapal Pengangkut 1 Ton Ketamin

Selasa, 27 Oktober 2026 | 00:26

Haji Isam dan Kutukan Demokrasi Mahal

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:50

Kinerja Sektor Hukum Era Prabowo-Gibran Makin Bertaring

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:24

Temui Mendikdasmen, DPR Minta Gerakan Lawan Bullying Diperkuat Lintas Sektor

Senin, 26 Oktober 2026 | 23:09

Balas Singapura! Bahlil Bakal Bangun PLTN di Batam

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:18

Pelabuhan Sabang Didorong jadi Hub Internasional yang Ramah Lingkungan

Senin, 26 Oktober 2026 | 22:17

Selengkapnya