Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Facebook Prabowo)

Publika

Hopeng

RABU, 03 DESEMBER 2025 | 03:44 WIB

SAAT meresmikan pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia di Cilegon, Banten, pada Kamis 6 November 2025, Presiden Prabowo Subianto sempat nyeletuk "saya hopeng kok", setelah sebelumnya menyebut "ada yang bilang saya takut dengan Jokowi", "buat apa saya takut".

Kalimat ini dimaknai dengan multi tafsir oleh sebagian pengamat baik politik maupun sosial psikologis.

Sebutan hopeng biasanya digunakan masyarakat Tionghoa sebagai bahasa gaul yang berkonotasi seperti sohib alias kawan akrab atau kawan dekat. Tetapi belum termasuk sahabat sejati yang hubungannya lebih spesifik lagi dan biasanya terbatas. Hopeng bisa disematkan pada siapa saja yang dianggap sering bertemu dan dalam banyak hal sependapat dan satu selera.


Persoalannya adalah apakah pernyataan Presiden Prabowo tersebut mendapat imbas yang sama dari Jokowi. Hopeng to Hopeng. Tampaknya sejauh ini tidak terlihat karakter seorang hopeng pada diri Jokowi. Secara umum Jokowi senantiasa bersikap datar, mencoba tidak emosional dan mencerminkan cara pandang yang sama pada semua orang yang berhubungan dengannya.

Prabowo memiliki sifat keterbukaan yang jauh lebih lugas ketimbang Jokowi. Sifat tulusnya yang pernah diungkapkan almarhum Gus Dur acapkali tampak nyata, tidak dibuat-buat. Sementara Jokowi hampir tidak memiliki ekspresi ini. 

Tentu saja masing-masing memiliki karakter dan kapasitas integritas yang berbeda-beda. Itu biasa saja dan wajar. Yang tidak wajar adalah ketika yang satu mencoba melindungi, sementara satunya malah menyulitkan.

Eskalasi pertarungan politik selama dua periode kontestasi sungguh menyita banyak energi bangsa. Namun yang lebih menarik untuk menyimak bagaimana kekuatan seorang Prabowo di kala kontestasi untuk ketiga kalinya mampu mengendalikan segala emosi dan penilaian pribadinya terhadap berbagai sepak terjang lawan-lawan politiknya. 

Sehingga tentu saja Prabowo memiliki catatan tersendiri selama lima tahun di dalam Kabinet Jokowi, di mana pada awalnya bukan tentang rekonsiliasi tetapi lebih pada menunjukan bahwa dirinya telah berhasil menaklukan Prabowo. Orang yang bahkan menyebutnya hopeng di kemudian hari saat telah berkuasa menggantikan dirinya. Hal yang sama terjadi pada cawapres Sandiaga Uno. 

Jokowi memandang kekuatan politik sebagai alat barter kekuasaan semata, sementara Prabowo memandang politik sebagai cara memakai kekuasaan untuk mengurus negara dan rakyat secara komprehensif. Hal ini akhirnya dapat kita lihat pada apa yang harus dihadapi Prabowo akan warisan kebijakan atau sikap Jokowi selaku presiden sebelumnya.

Berbeda dengan Jokowi, maka hubungan Prabowo dengan Sjafrie Sjamsoeddin bukanlah hopeng semata tapi boleh dibilang sahabat sejati.

Maka pada akhirnya rakyat akan melihat dengan jernih bagaimana ketabahan dan kekuatan Presiden Prabowo untuk menghadapi semua permasalahan bangsa ini yang bila menyitir ucapan Luhut Binsar Pandjaitan terkait kereta Woosh sebagai "barang busuk" saat diterima untuk ditanganinya.

Presiden Prabowo dan Tim Kepresidenan menghadapi masalah rongrongan koruptor, mafia tambang, mafia kekayaan alam, hutan beserta isinya.

Bencana akibat ulah mereka yang tak ditangani oleh pemerintahan Jokowi selama sepuluh tahun telah meletup dan meluluh lantakan tanah Sumatera dan Aceh dengan ratusan korban jiwa, harta benda tak terkira.

Dampak kehidupan yang butuh pemulihan bertahun-tahun ke depan tentu tak bisa disebut sebagai hopeng, melainkan lebih kepada "ach itu hanya topeng belaka", ketika sang hopeng harus merawat wajahnya yang berubah itu.


Adian Radiatus
Pemerhati masalah sosial dan politik

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Menteri P2MI Didesak Terbitkan Aturan Transisi SIUKAK-SIP3MI

Selasa, 29 September 2026 | 03:59

Ombudsman Diminta Tindaklanjuti Secara Terbuka Temuan di Lapas Cibinong

Selasa, 29 September 2026 | 03:43

KPK Diminta Periksa Petinggi Summarecon Terkait Aliran Uang ke Pejabat

Selasa, 29 September 2026 | 03:23

28.620 Manajer KDKMP Terima SK, Penempatan Diserahkan ke Agrinas

Selasa, 29 September 2026 | 02:55

Dunia Butuh Penguatan Multilateralisme di Tengah Geopolitik yang Tak Pasti

Selasa, 29 September 2026 | 02:25

PHE Ajak Mahasiswa Kenali Industri Hulu Migas Lewat Upstream Youth Champs 2026

Selasa, 29 September 2026 | 01:56

Polisi Pastikan Bupati Gowa Sitti Husniah Dicekal ke Luar Negeri

Selasa, 29 September 2026 | 01:26

Menhan Sjafrie Serahkan 12 Ranpur Amfibi AAV M-35 Buatan AS ke Marinir

Selasa, 29 September 2026 | 00:47

BEI Buka Short Selling Mulai 1 Oktober, Begini Cara Kerja dan Risikonya

Selasa, 29 September 2026 | 00:20

KPK Diminta Tidak Tebang Pilih Usut Kasus Korupsi Kementerian ATR/BPN

Senin, 28 September 2026 | 23:48

Selengkapnya