Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Wall Street: Tiga Indeks Utama Tersungkur

SELASA, 02 DESEMBER 2025 | 08:34 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin 1 Desember 2025, waktu setempat, tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS serta data ekonomi yang menunjukkan sektor manufaktur masih tertahan oleh dampak tarif. 

Dikutip dari Reuters, pergerakan indeks utama kompak turun. Dow Jones melemah 0,90 persen, S&P 500 turun 0,53 persen, dan Nasdaq terkoreksi 0,38 persen. Kenaikan imbal hasil obligasi menjadi tekanan utama karena membuat investor menjauhi saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga.

Data dari Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan manufaktur AS kembali menyusut pada November, menandai kontraksi selama sembilan bulan berturut-turut. Pesanan baru melemah dan harga input masih tinggi akibat efek tarif yang berkepanjangan.


Kenaikan imbal hasil juga menekan sektor utilitas dan properti di indeks S&P 500 karena sering dianggap sebagai pengganti obligasi. Sementara itu, investor menunggu rilis data inflasi PCE -- indikator favorit The Fed -- yang sempat tertunda dan dijadwalkan keluar pada Jumat.

Saham-saham terkait kripto juga merosot cukup tajam setelah Bitcoin jatuh hampir 6 persen dan sempat turun di bawah 85.000 Dolar AS . Coinbase turun 4,8 persen, Bitfarms anjlok 5,7 persen, dan MicroStrategy ditutup melemah 3,3 persen setelah memangkas proyeksi pendapatan 2025 akibat pelemahan pasar kripto.

Di sisi lain, saham Synopsys melesat 4,9 persen setelah Nvidia mengumumkan investasi 2 miliar Dolar AS pada perusahaan perangkat lunak desain chip tersebut. Saham ritel juga bergerak positif pada momen Cyber Monday, dengan Walmart dan Target masing-masing naik 0,9 persen dan 0,8 persen seiring proyeksi belanja online mencapai 14,2 miliar Dolar AS pada hari itu.

Pasar kini memperhitungkan peluang lebih dari 85 persen bahwa The Fed akan memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 10 Desember mendatang. Beberapa pejabat bank sentral memberi sinyal dovish dalam beberapa pekan terakhir, sementara laporan bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menjadi kandidat kuat pengganti Jerome Powell turut memicu ekspektasi pelonggaran lebih lanjut.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya