Berita

Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Publika

DNA Konflik di Tubuh PBNU

SENIN, 01 DESEMBER 2025 | 06:49 WIB

NAHDLATUL ULAMA (NU) selalu tampak damai dari kejauhan, seperti kolam wudu sebelum subuh. Begitu disentuh sedikit saja, riaknya memantul sampai ke halaman sejarah republik ini. 

Di balik senyum para kiai dan bau harum kopi pesantren, tersembunyi labirin konflik yang telah tumbuh seperti gen bawaan. 

NU bukan sekadar organisasi. Ia adalah organisasi raksasa yang hidup, bernapas, dan mewariskan satu sifat tetap dari generasi ke generasi, kemampuan bertengkar dengan cara paling sopan sekaligus paling rumit. 


Sejak kelahirannya pada 1926, Deoxyribo Nucleic Acid alias DNA konflik itu sudah tertanam, mengalir turun-temurun, dan muncul setiap kali ada perebutan otoritas, siapa memimpin, siapa menentukan arah, siapa mengawal umat.

Pada masa awal, gesekannya masih seperti adu argumen antara santri rajin dan santri nakal, pelan, beradab, penuh hormat. Kiai sepuh ingin NU tetap seperti langgar kampung, memeluk tradisi tanpa banyak perubahan. 

Kiai muda ingin NU membuka diri, menata madrasah modern, dan merapikan administrasi. Perdebatan tebal itu tidak pernah pecah menjadi perang, tetapi menjadi benih perselisihan yang kelak tumbuh seperti akar beringin masuk ke mana-mana. 

Tahun 1952 menjadi guncangan pertama ketika NU keluar dari Masyumi karena merasa dipinggirkan. Kursi kabinet terlalu sedikit, suara tidak didengar, dominasi kelompok modernis terlalu kuat. 

NU lalu membangun Partai NU. Sejak itu konflik internal seperti mendapat pupuk baru, ketika ulama punya partai, setiap keputusan berubah menjadi strategi politik.

Era KH Idham Chalid menjadi babak paling dramatis berikutnya. Idham adalah politisi dengan kelenturan luar biasa. Ia memimpin PBNU sejak 1956 hingga 1984, menjadi Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR, Ketua MPR, dan Ketua Partai NU. 

Terlalu kuat untuk ditolak, terlalu dekat dengan istana untuk tidak dicurigai, terlalu mahir untuk dijatuhkan. Namun di balik kekokohan itu, banyak kiai menggerutu pelan. 

NU kehilangan napas pesantren, terlalu sibuk mengurus politik PPP, dan terlalu jauh dari umat. Ketika Orde Baru memaksa fusi partai tahun 1973, Partai NU dilebur ke PPP, identitas seakan lenyap seperti sandal jepit hilang di serambi masjid. Seruan “kembali ke khittah” pun menggema, menandai bahwa DNA konflik itu sedang aktif kembali.

Ledakan besarnya terjadi pada Muktamar Situbondo 1984, sebuah kudeta paling santun dalam sejarah ormas Islam. Para kiai sepuh mengembalikan NU ke Khittah 1926 dan dengan itu menggeser hegemoni Idham. 

Dari sana muncul sosok yang kemudian mengguncang bangsa, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Gur. Di bawah Gus Dur, NU berubah menjadi ormas vokal, kritis, dan mustahil dikendalikan. 

Orde Baru langsung alergi. Maka diciptakan segala cara, tekanan halus, framing negatif, hingga kandidat tandingan bernama Abu Hasan pada Muktamar Cipasung 1994. 

Namun drama itu berakhir memalukan bagi rezim karena Gus Dur menang mutlak. DNA konflik NU kembali membuktikan satu hal, organisasi ini bisa ditekan, tapi tidak bisa disetir.

Pasca Gus Dur, faksi-faksi bermunculan membawa tafsir masing-masing tentang masa depan NU. Ada yang merapat ke pemerintah, ada yang menjaga jarak, ada yang mengejar proyek, ada pula yang murni ingin melestarikan tradisi. Seperti hukum alam internal NU, ketika faksi terlalu banyak, konflik pasti meledak.

Hingga akhirnya tahun 2025, bab baru terbuka. Syuriah di bawah Rais Aam KH Miftahul Akhyar memecat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya.

Gus Yahya menolak, melawan, dan menyatakan keputusan itu tidak sah. PBNU kembali pecah, administrasi macet, kubu-kubuan terbentuk, dan jamaah kembali bertanya-tanya, kapan NU benar-benar damai? Mungkin jawabannya sederhana, sejak awal, DNA konflik memang sudah tinggal di tubuh PBNU, dan ia selalu muncul setiap kali sejarah memanggilnya.

Pada akhirnya, setiap pertarungan di tubuh PBNU mengajarkan satu pesan moral yang tidak pernah berubah, organisasi sebesar apa pun hanya akan selamat jika para pemangkunya lebih mencintai amanah daripada ambisi. 

Sehebat apa pun para kiai, selicin apa pun strategi politik, semua akan runtuh bila lupa bahwa NU lahir bukan untuk memperbesar ego siapa pun, tetapi untuk menjaga martabat umat, menuntun akhlak, dan memelihara warisan para pendiri. 

Konflik boleh datang silih berganti, tetapi ia hanya akan menjadi ujian, bukan kehancuran, bila setiap tokoh ingat bahwa jabatan itu sementara, sedangkan tanggung jawab kepada Allah dan umat bersifat kekal.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya