Berita

Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat) Sugiyanto. (Foto: Istimewa)

Politik

Isu Ijazah Palsu Jokowi Bisa jadi Bom Waktu yang Rugikan Pemerintah

SENIN, 01 DESEMBER 2025 | 03:02 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Sikap mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang memilih memperumit kasus tuduhan ijazah palsu daripada memudahkan, sesungguhnya merupakan tindakan tidak rasional dan tidak mencerminkan kenegarawanan.

"Jokowi yang menghindar atau mempersulit akses terhadap bukti administratif yang dapat diverifikasi, hanya akan menimbulkan kecurigaan, memperpanjang konflik, dan memperluas ruang disinformasi," kata Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat) Sugiyanto melalui keterangan tertulisnya kepada RMOL, Senin 1 Desember 2025.

Jokowi yang masih menyembunyikan ijazahnya rapat-rapat dari publik, kata Sugiyanto, justru membuat masyarakat bingung, frustrasi, dan tertekan, serta dapat merembet pada merosotnya legitimasi, stabilitas, dan kepercayaan publik secara luas.


Belum lagi pro dan kontra semakin tajam, sehingga membelah masyarakat ke dalam dua kubu yang saling menyerang, sehingga memunculkan potensi konflik sosial yang mengganggu keamanan dan stabilitas politik pemerintahan yang sedang berjalan. 

"Polarisasi ini berpotensi menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan pun dan dapat menggerogoti kepercayaan publik terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa," kata Sugiyanto.

Sugiyanto menekankan bahwa model bekas pemimpin yang terus-menerus memperumit masalah jelas merugikan banyak pihak, termasuk masyarakat luas dan pemerintahan yang sedang berkuasa. 

"Bekas pemimpin dengan kecenderungan seperti ini mungkin kerap menunjukkan perilaku menghindar dari transparansi serta bersikap defensif dengan membalikkan narasi," kata Sugiyanto. 

Tipe kepemimpinan semacam ini, lanjut Sugiyanto, boleh jadi juga sering mengandalkan taktik penundaan, memanfaatkan prosedur birokrasi untuk mengaburkan fakta, dan memobilisasi pendukung demi meredam kritik.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Digelar di Ambon, Muktamar XIV KAMMI Usung Semangat Ale Rasa, Beta Rasa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:29

KPU Perlu Keluarkan Surat Gibran Tidak Memenuhi Syarat Wapres

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 16:13

Gumarang Soroti Perubahan Sikap Rocky Gerung Setelah Masuk Lingkaran Istana

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:48

10 Saham Paling Tertekan saat IHSG Anjlok 7 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:16

OJK Serahkan Lagi Hasil Penelusuran Aset DSI, Bareskrim Sudah Sita Rp432 Miliar

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 15:04

Eksekusi Suntik Mati Gagal, Christa Pike Akui Alami Trauma dan Rasa Sakit

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:52

Harga Bitcoin Tertekan Setelah Binance Dibobol Hacker

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:44

Pendiri Ayam Goreng Suharti Tutup Usia, Merintis Bisnis Sejak 1956

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:30

Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:19

Kemlu Dalami Informasi WNI Tewas Saat Dinas Militer di Rusia Lewat KBRI Moskow

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 14:05

Selengkapnya