Berita

Banjir di Sumatera Barat membawa material kayu. (Foto: Media Sosial)

Publika

Banjir Sumatera: Jejak Kejahatan Kehutanan dan Kegagalan Negara

SABTU, 29 NOVEMBER 2025 | 22:17 WIB

BANJIR yang melanda beberapa wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat bukan sekadar fenomena cuaca.

Gelombang arus membawa lautan gelondongan kayu, menjadi bukti nyata hutan sedang dijarah, ditambah laporan aduan audit alam kepada publik, serta hilangnya resapan air alami akibat deforestasi masif.

Kondisi ini memperparah dampak banjir, menjadikannya bencana yang lahir dari kombinasi alam dan kegagalan pengelolaan hutan.


Fakta ini juga menyingkap jejak kejahatan kehutanan yang terorganisir. Kayu sebanyak itu tidak mungkin keluar dari hutan tanpa izin, pengawasan, atau stempel birokrasi. Ini tanda jelas adanya kelalaian negara (state omission).

Publik berhak mendapatkan jawaban, dari mana kayu ini berasal? Siapa pelaku penebangan? Perusahaan atau pabrik CPO mana yang menguasai kayu ini? Dan mengapa pengawasan negara tidak mendeteksinya?

Penyelidikan aparat Polri dan PPNS KLHK harus diperluas, bukan lagi menyasar pelaku kecil, tetapi juga struktur korporasi dan pihak yang mengambil keuntungan dari kerusakan hutan.

Negara gagal dalam tiga titik utama: pengawasan hulu (Dishut, Gakkum KLHK, Polhut), penegakan hukum (Polri, Kejaksaan, PPNS KLHK), dan pemerintah daerah yang menutup mata terhadap aktivitas industri kayu.

Banjir ini adalah alarm nasional. Bukan hanya soal alam, tapi juga kegagalan pengelolaan hutan dan pengawasan negara.

Tindakan cepat, terukur, terarah dan transparan dari semua pihak wajib dilakukan untuk menghentikan perusakan hutan, melindungi publik, dan menegakkan akuntabilitas serta bertanggung jawab untuk menuntaskan segala akibat atas peristiwa ini.

Azmi Syahputra
Dosen Hukum Pidana Universitas Trisakti; Sekretaris Jenderal Masyarakat Hukum Pidana dan Kriminologi (Mahupiki)

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya