Berita

Kakao. (Foto: RMOL/Alifia)

Bisnis

Bea Keluar Kakao Diprediksi Sumbang Rp200 Miliar ke Kas Negara Tahun Ini

SELASA, 25 NOVEMBER 2025 | 13:35 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan memproyeksikan penerimaan negara dari komoditas kakao akan tetap berada pada kisaran Rp200 miliar hingga akhir 2025.

Prediksi ini mengikuti perubahan skema pungutan ekspor yang resmi diberlakukan pada Oktober 2025.

Analis Ahli Madya Direktorat Strategi Penerimaan Negara Bukan Pajak DJSEF, Nurlaidi, menjelaskan bahwa harga kakao global saat ini masih bertahan pada level tinggi, di kisaran 5.000-6.000 Dolar AS per ton, jauh di atas ambang batas 3.500 Dolar AS. 


Pada level harga ini, tarif Bea Keluar (BK) 7,5 persen serta Pungutan Ekspor (PE) 7,5 persen tetap berlaku sesuai ketentuan baru yang efektif sejak 22 Oktober 2025.

“Sampai September 2025, bea keluar sudah mencapai Rp 150 miliar. Setelah skema dipecah menjadi BK dan PE masing-masing 7,5 persen, pungutan ekspor per Oktober baru terkumpul Rp 48 juta,” ujar Nurlaidi, dalam Kunjungan Kerja Media Kontribusi Industri Kakao untuk APBN dan Perekonomian, dikutip Selasa 25 November 2025.

Ia menambahkan, tren penerimaan negara hingga akhir tahun diperkirakan tidak akan mengalami perubahan berarti. Dengan rata-rata penerimaan BK sekitar Rp10 miliar–Rp12 miliar setiap bulan, total BK sepanjang 2025 diproyeksikan berada di rentang Rp 190–200 miliar.

Di sisi lain, pungutan ekspor (PE) diprediksi hanya menyumbang sekitar Rp 70 juta sepanjang tahun. 

“Totalnya tetap sekitar Rp 200 miliar. Secara postur APBN tidak berubah, karena hitungan tax ratio tetap sama,” paparnya.

Melihat tahun depan, ia menilai outlook penerimaan negara dari kakao juga tidak akan bergeser jika skema tarif tetap sama. Mulai Januari 2026, BK dan PE masing-masing 7,5 persen akan berlaku penuh sepanjang tahun.

Dengan asumsi harga kakao internasional masih berada di atas ambang batas 3.500 dollar AS, Nurlaidi menilai kinerja penerimaan negara dari komoditas tersebut pada 2026 akan serupa dengan tahun ini.

“Kalau harga tetap, penerimaannya ya sekitar Rp 200 miliar juga,” tandasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya