Berita

Ilustrasi (Foto: Artificial Intelligence)

Bisnis

Bitcoin Makin Terpuruk, Pasar Kripto Kehilangan Rp 19.200 Triliun

SABTU, 22 NOVEMBER 2025 | 11:52 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga Bitcoin kembali merosot tajam. Pada Jumat 21 November 2025, mata uang kripto terbesar di dunia itu turun ke sekitar 80.553 Dolar AS atau sekitar Rp1,28 miliar, menyentuh level terendah dalam tujuh bulan. 

Penurunan ini terjadi di tengah pelarian investor dari aset berisiko. Kekhawatiran soal valuasi saham teknologi yang dianggap terlalu tinggi serta ketidakpastian pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS membuat pasar global gelisah. 

Kripto, yang sering dianggap sebagai indikator selera risiko investor, ikut tenggelam. Kejatuhan pasar juga diperparah oleh insiden bulan lalu ketika aksi jual besar-besaran melikuidasi posisi senilai lebih dari 19 miliar Dolar AS dalam satu hari. Keuntungan Bitcoin sepanjang tahun pun sudah menguap; kini Bitcoin turun 12 persen sejak awal 2025, sementara Ether jatuh hampir 19 persen.


Menurut analis pasar dari IG, Tony Sycamore, kejatuhan Bitcoin bisa menjadi sinyal memburuknya sentimen pasar secara keseluruhan. Ia mengatakan, “Jika ini mencerminkan sentimen risiko secara keseluruhan, keadaan bisa menjadi sangat, sangat buruk, dan itulah kekhawatirannya sekarang," ujarnya dikutip dari Reuters, Sabtu 22 November 2025.

Sejumlah analis juga mencermati level harga 80.000-100.000 Dolar AS, yang dianggap sebagai kisaran pembelian rata-rata investor institusi. Artinya, jika harga turun lebih dalam, perusahaan atau lembaga yang membeli di level tersebut bisa terpaksa menjual agar tidak menanggung kerugian lebih besar. Kondisi pasar kripto dalam enam minggu terakhir pun mengkhawatirkan; nilainya menyusut sekitar 1,2 triliun Dolar AS, atau sekitar Rp19.200 triliun.

Tekanan terbesar kini dirasakan oleh perusahaan yang disebut crypto treasury companies, yaitu perusahaan yang membeli Bitcoin untuk disimpan dalam neraca keuangan mereka. Standard Chartered memperkirakan bahwa jika Bitcoin turun di bawah 90.000 Dolar AS, setengah dari total kepemilikan kripto perusahaan-perusahaan itu akan berada dalam posisi merugi atau “tenggelam”. 

Jika situasi ini memburuk, mereka mungkin harus menjual sebagian besar kepemilikannya atau mencari pendanaan baru, yang pada akhirnya bisa menambah tekanan penurunan pada harga Bitcoin. Saat ini, perusahaan publik memegang sekitar 4 persen dari seluruh Bitcoin dan 3,1 persen Ether yang beredar.

Tekanan penurunan harga Bitcoin juga berdampak pada saham perusahaan-perusahaan besar yang selama ini agresif mengoleksi kripto. Saham Strategy, misalnya, telah anjlok 61 persen dari puncaknya di bulan Juli dan kini turun hampir 40 persen sejak awal tahun. JP Morgan bahkan memperingatkan bahwa perusahaan itu berisiko dikeluarkan dari indeks MSCI, yang bisa memicu aksi jual otomatis oleh dana-dana yang mengikuti indeks tersebut. Di Jepang, perusahaan Metaplanet juga terpuruk, jatuh sekitar 80 persen sejak puncaknya pada Juni.

Beberapa analis mengingatkan bahwa koreksi tajam bukan hal baru bagi Bitcoin. Pada 2018 dan 2022, harga Bitcoin sempat anjlok hingga 75-80 persen. Jika pola itu terulang, Bitcoin berpotensi merosot hingga sekitar 25.000 Dolar AS, atau sekitar Rp400 juta.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Bahlil Ungkap Defisit Minyak RI Hampir 1 Juta Barel per Hari

Selasa, 15 September 2026 | 10:24

Pemerintah Terus Perbaiki DTSEN agar Bansos Tepat Sasaran

Selasa, 15 September 2026 | 10:15

Jelang Sertijab Menteri Keuangan, Rupiah Melemah ke Rp17.674 per Dolar AS

Selasa, 15 September 2026 | 10:10

Pitra Romadoni Pilih Restoratif Justice soal Kasus ITE di Polres Bogor

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

Bahlil Buka Suara soal Antrean BBM Subsidi di Makassar

Selasa, 15 September 2026 | 10:05

KPK Benarkan Presiden Direktur Summarecon Agung Turut Terjaring OTT

Selasa, 15 September 2026 | 10:02

IBC Mulai Produksi Baterai di Karawang, Kapasitas Awal 6,9 GWh

Selasa, 15 September 2026 | 09:57

Ruang Akademik Menuju Ekosistem Hak Asasi Manusia

Selasa, 15 September 2026 | 09:48

Turun Dua Hari Beruntun, Emas Antam Ambruk ke Rp2,5 Juta per Gram

Selasa, 15 September 2026 | 09:44

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon Usai OTT

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Selengkapnya