Berita

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. (Foto: Facebook Sjafrie Sjamsoeddin)

Publika

Sjafrie Sjamsoeddin Jenderal Pemberani

KAMIS, 20 NOVEMBER 2025 | 06:59 WIB

TANGGAL 10 Agustus 2025, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan pangkat Jenderal TNI Bintang Empat (Kehormatan) kepada Sjafrie Sjamsoeddin. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya di bidang pertahanan dan militer. Sebelumnya, pangkat terakhir Sjafrie adalah Letnan Jenderal TNI (Purn).

Penganugerahan tersebut dilaksanakan dalam Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer di Lapangan Suparlan Pusdiklatpassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Penghargaan ini sangat tepat dan layak diberikan. Sjafrie adalah sosok yang cakap dalam bertugas, loyal kepada pimpinan, serta dikenal bertanggung jawab dalam setiap amanah yang diembannya.


Peraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) 1974 ini dikenal sebagai sosok yang tenang tetapi tegas.

Ia bukan tipe pemimpin yang banyak berbicara demi popularitas, melainkan lebih mengutamakan tindakan nyata yang berdampak. Keberaniannya terbukti dalam berbagai fase kariernya, baik sebagai perwira TNI, saat memimpin pengamanan presiden, maupun kini ketika menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Sjafrie dibesarkan dalam lingkungan militer sejak awal. Ia lahir di Makassar pada 30 Oktober 1952. Sjafrie  merupakan teman seangkatan Presiden Prabowo Subianto semasa taruna Akabri Darat di Lembah Tidar, Magelang. Sjafrie masuk akademi pada tahun 1971 dan lulus bersama Prabowo pada tahun 1974. 

Setelah itu, Sjafrie dan Prabowo bergabung dengan Kopassus, Korps Pasukan Khusus TNI. Selama kariernya, ia memimpin berbagai operasi penting di Timor Timur, Aceh, hingga Papua, yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap tugas militer dan keamanan negara.

Di mata rakyat dan rekan seangkatannya, kepemimpinan Sjafrie sangat dihormati. Ia dikenal sebagai Pak SS oleh bawahannya. Julukan Pak SS ini jelas mencerminkan rasa hormat, ketegasan, dan kedekatan kepemimpinan dengan para prajuritnya. Ketika dipercaya memimpin Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) pada era Presiden Soeharto, reputasinya sebagai sosok yang dapat diandalkan semakin menguat.

Salah satu peristiwa paling mengesankan yang menggambarkan keberaniannya terjadi pada 22 Oktober 1995 di Hotel Waldorf Towers, New York. Saat itu, Presiden Soeharto menghadiri sidang PBB sebagai Wakil Ketua OKI. Perdana Menteri Israel, Yitzhak Rabin, datang bersama tim pengawal dan agen Mossad untuk bertemu Soeharto. Namun, pengawalnya menolak menaati protokol Paspampres.

Dalam situasi yang memanas itu, Sjafrie yang memimpin Paspampres tetap bersikeras mempertahankan prosedur pengamanan. Ketegangan meningkat ketika seorang agen Israel menarik senapan otomatis Uzi dan mengancam keselamatan. Situasi ini tentu sulit ditebak ujung penyelesaiannya.

Dalam kondisi genting tersebut, Sjafrie dengan cepat merespons secara refleks dengan menarik pistolnya dan menodongkannya ke arah pengawal itu. Ketegangan yang memuncak tersebut tidak berujung pada baku tembak. Sang agen akhirnya menurunkan senjata dan meminta maaf. Setelah insiden itu, Rabin dikawal menuju kamar Presiden Soeharto dan pertemuan berlangsung sekitar 15 menit.

Kisah ini bukan sekadar anekdot heroik, tapi mencerminkan prinsip dasar pengamanan kenegaraan. Artinya, protokol, disiplin, dan keberanian dalam menjaga supremasi kedaulatan negara harus menjadi prioritas. Sebagai pengawal presiden, Sjafrie tidak tunduk pada tekanan dari pengawal asing yang meremehkan aturan. 

Tindakan Sjafrie tersebut sangat logis dalam konteks keamanan kenegaraan. Dalam situasi seperti ini, jika Paspampres mengizinkan siapa pun melanggar prosedur, hal itu dapat merusak integritas perlindungan terhadap kepala negara.

Karier Sjafrie kemudian terus menanjak. Setelah era Paspampres, ia menjabat sebagai Pangdam Jaya, kemudian sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, lalu sebagai Wakil Menteri Pertahanan (2010-2014) dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.   

Setelah purnawirawan, ia tetap aktif, termasuk menjadi asisten khusus di Kementerian Pertahanan sebelum akhirnya diangkat sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024. 

Hubungannya dengan Prabowo bukan sekadar profesional. Dalam banyak hal, Sjafrie dan Prabowo tampak saling memahami, saling mendukung, saling membantu, dan bekerja sama erat.

Sjafrie dan Prabowo telah dekat sejak masa Akademi Militer. Kedekatan ini menjadi fondasi kepercayaan yang kuat, termasuk dalam kerja sama di bidang pertahanan dan urusan strategis lainnya.

Di jabatannya sekarang, Sjafrie bukan hanya simbol militer yang tegas, tetapi juga figur sipil-militer yang berwawasan kebijakan. Pada 16 Desember 2024, ia diangkat sebagai Ketua Pelaksana Dewan Pertahanan Nasional yang punya tugas strategis menyusun kebijakan pertahanan jangka panjang.   

Nilai-nilai kepemimpinannya -- ketenangan dalam menghadapi krisis, ketegasan dalam mempertahankan mekanisme, serta keberanian dalam menghadapi konfrontasi -- menjadi ciri khas yang menonjol pada dirinya. 

Alasan mengapa rakyat mendukung dan bersedia membantu (atau setidaknya menghormati) kepemimpinan Sjafrie sangatlah logis. Sjafrie menjadi jembatan antara militer lama yang dikenal kuat dan disiplin dengan harapan pertahanan modern yang profesional dan terhormat.

Karena pengalaman Sjafrie yang panjang dan diuji dalam situasi krisis -- seperti insiden Rabin -- ia menunjukkan bahwa keberanian sejati bukan hanya soal tembak-menembak, tetapi juga soal integritas protokoler, tanggung jawab diplomatik, dan loyalitas pada prinsip negara.

Sugiyanto

Pemerhati sosial dan politik

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya