Berita

Pabrik tekstil PT Sritex. (Foto: Dok Sritex)

Bisnis

126 Ribu Buruh Kena PHK Sejak 2022, Mayoritas dari Sektor Tekstil

SELASA, 11 NOVEMBER 2025 | 14:48 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) masih masif di industri nasional. Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) mencatat total 126.160 buruh anggotanya menjadi korban PHK dalam periode 2022 hingga Oktober 2025.

Presiden KSPN Ristadi menjelaskan, sepanjang 2024 saja terdapat 79.045 buruh KSPN yang kehilangan pekerjaan. Sebagian kasus sudah terjadi secara bertahap sejak akhir 2022 namun baru dilaporkan pada 2024. 

Sementara itu, sepanjang Januari-Oktober 2025 terdapat 47.115 laporan PHK tambahan.


"Terjadinya PHK ini pun ada yang dari 2023 secara bertahap dan baru menginformasikan ke DPP KSPN pada 2025. Jadi total laporan PHK anggota KSPN sampai Oktober 2025 sebanyak 126.160 pekerja," kata Ristadi dalam keterangan tertulis, Selasa 11 November 2025.

Mayoritas buruh terdampak berasal dari sektor tekstil, garmen, dan sepatu yang mencapai 99.666 orang atau 79 persen. Sisanya tersebar di sektor ritel, perkebunan/kehutanan, aneka mainan, otomotif, pertambangan, hotel, mebel, industri ban motor, hingga produk kertas.

PHK tersebut berasal dari 59 perusahaan tekstil dan produk tekstil (TPT) serta 13 perusahaan non-TPT. Dari perusahaan TPT, tiga di antaranya berorientasi penuh ekspor.

"Sisanya ada yang lokal campur ekspor dan ada yang full lokal oriented. Sementara perusahaan ban motor dan varian kertas full lokal market," ujarnya.

Secara geografis, PHK paling banyak terjadi di Pulau Jawa. Jawa Tengah menjadi wilayah paling terdampak dengan 47.940 buruh atau 38 persen korban PHK. Disusul Jawa Barat 39.109 buruh (31 persen), Banten 21.447 buruh (17 persen), Sulawesi Tenggara 7.569 buruh (6 persen), dan sisanya 10.095 buruh tersebar di Jakarta, Nusa Tenggara Barat, dan daerah lainnya.

Ristadi menyebut ada enam faktor utama penyebab PHK massal ini, termasuk penurunan pesanan (tidak ada order), pabrik tutup total, persaingan ketat dengan produk impor, masalah gagal bayar/pailit, dan relokasi pabrik.

Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri mengonfirmasi dampak PHK terhadap angka pengangguran. Deputi BPS, Moh Edy Mahmud, menyebut bahwa 0,77 persen dari total 7,46 juta pengangguran per Agustus 2025 merupakan mereka yang kehilangan pekerjaan akibat PHK.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya