Ilustrasi pers. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi pers. (Foto: Istimewa)
MENGENANG kebebasan pers pada era Orde Baru bukan sekadar membuka lembar sejarah, tapi mengingat luka kolektif bangsa -- tentang bagaimana kebenaran dikekang dan suara rakyat dibungkam atas nama stabilitas.
Pada masa itu, pers hidup dalam cengkeraman kekuasaan. Setiap berita harus tunduk pada garis resmi pemerintah. Departemen Penerangan menjadi wasit tunggal yang menentukan mana media yang boleh hidup dan mana yang harus mati. Instrumen seperti SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers) digunakan untuk menaklukkan redaksi, bukan menata profesionalisme.
Tahun 1994 menjadi simbol paling gamblang dari represi itu: majalah Tempo, Editor, dan Detik dibredel hanya karena berani menyingkap sisi gelap kekuasaan. Dari situ, kita belajar bahwa dalam sistem otoriter, kebenaran selalu dianggap ancaman.
Populer
Senin, 23 Maret 2026 | 01:38
Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08
Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43
Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59
Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07
Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26
Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15
UPDATE
Rabu, 01 April 2026 | 08:16
Rabu, 01 April 2026 | 08:07
Rabu, 01 April 2026 | 07:53
Rabu, 01 April 2026 | 07:42
Rabu, 01 April 2026 | 07:35
Rabu, 01 April 2026 | 07:24
Rabu, 01 April 2026 | 07:17
Rabu, 01 April 2026 | 06:57
Rabu, 01 April 2026 | 06:48
Rabu, 01 April 2026 | 06:20