Berita

Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Bursa Eropa Melemah di Akhir Pekan Dipicu Sentimen Teknologi

SABTU, 08 NOVEMBER 2025 | 08:08 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pasar saham Eropa menutup pekan yang bergejolak dengan pelemahan. 

Pedagang gelisah dan memilih untuk mengambil untung (risk-off), terutama karena kekhawatiran terhadap valuasi yang terlalu tinggi pada saham-saham di sektor teknologi.

Indeks acuan seluruh kawasan Eropa, STOXX 600, ditutup turun 0,6 persen di level 564,79 poin. Penurunan ini menandai kemerosotan dua pekan berturut-turut yang terbesar sejak September, periode di mana pasar diguncang isu utang negara dan ketidakpastian politik di Prancis.


Para analis menunjuk beberapa faktor yang menyebabkan aksi jual (pelemahan) di Eropa pekan ini. 

Pertama adalah valuasi saham teknologi yang tinggi. Kenaikan harga saham-saham terkait Kecerdasan Buatan (AI) beberapa bulan terakhir dianggap sudah terlalu tinggi, memicu investor untuk menjualnya. 

Kedua adalah kekhawatiran politik Amerika Serikat (AS). Ancaman penutupan pemerintahan (government shutdown)  menambah kegelisahan global. Dan ketiga adalah komentar Federal Reserve (Hawkish). Komentar dari bank sentral AS yang mengisyaratkan kebijakan moneter ketat juga menekan sentimen pasar.

Di tengah pelemahan umum, beberapa saham justru melonjak. Saham ITV (Inggris) melonjak 16,6 persen setelah mengumumkan sedang dalam pembicaraan untuk menjual unit media dan hiburannya.

Saham Aumovio,Jerman juga melonjak. Saham pemasok suku cadang mobil ini naik 9,8 persen setelah melaporkan kinerja kuartal ketiga yang kuat dan memastikan pasokan chip dari Nexperia China telah diamankan.

Sektor otomotif Eropa secara umum naik 0,6 persen, didukung oleh harapan bahwa pasokan chip akan pulih.

Saham Rightmove (Inggris), perusahaan portal properti ini merosot 12,5 persen setelah memperkirakan pertumbuhan laba yang melambat pada tahun 2026.

Saham Novo Nordisk, perusahaan obat terkenal, anjlok 5,1 persen setelah mencapai kesepakatan dengan AS untuk menurunkan harga obat penurun berat badan andalan mereka (GLP-1), seperti Ozempic.

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya