Berita

Presiden ke-2 RI, Soeharto.

Politik

Perdebatan Gelar Pahlawan Soeharto Hal Wajar

MINGGU, 02 NOVEMBER 2025 | 10:14 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Perdebatan mengenai rencana pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto, merupakan hal yang wajar. Setiap tokoh besar yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah tentu akan memunculkan beragam pandangan. 

Ada yang menilai dari sisi jasa dan kontribusi, ada pula yang mengingat catatan kontroversial di masa pemerintahannya. Dalam konteks demokrasi, perbedaan pendapat tersebut menjadi bagian penting dari upaya bangsa ini untuk menilai sejarah secara jernih dan proporsional.

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Irma Suryani,
mengatakan penolakan dan dukungan merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Namun, perlu dilihat secara arif bahwa Presiden Soeharto sudah memimpin dan mengabdi lebih dari 30 tahun untuk Tanah Air.

mengatakan penolakan dan dukungan merupakan perbedaan pendapat yang wajar. Namun, perlu dilihat secara arif bahwa Presiden Soeharto sudah memimpin dan mengabdi lebih dari 30 tahun untuk Tanah Air.

"NasDem sepakat untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto. Enggak ada masalah," kata Irma lewat keterangan resmi yang dikutip redaksi di Jakarta, Minggu, 2 November 2025.

Menurut Irma, tidak ada pemimpin yang akan paripurna di mata masyarakat. Akan selalu ada kebaikan serta kesalahan dalam masa kepemimpinan, dan hal itu normal terjadi.

"Tapi kita harus melihat secara arif. Biar bagaimanapun selama memimpin Indonesia banyak juga kebaikan yang sudah diberikan oleh Soeharto kepada bangsa ini. Dan itu tidak boleh dikesampingkan," ujarnya.

Lebih lanjut menurut Irma, semua Presiden Republik Indonesia adalah pilihan rakyat dan sudah membawa Tanah Air menjadi lebih baik. Mulai dari Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY, hingga Jokowi mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

"Kenapa kita nggak berfikir positif untuk semua pemimpin bangsa. Kalau NasDem sih, janganlah melihat seseorang itu berpikiran sempit, legacy yang ditingalkan itu harus juga dilihat," tandas Irma.  



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya