Berita

Ilustrasi. (Foto: Artificial Intelligence)

Publika

Satelit, Sensor, dan Alam yang Berbicara

SABTU, 01 NOVEMBER 2025 | 05:15 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

KALAU bumi ini pasien, maka ia sedang dirawat di rumah sakit raksasa bernama planet. Suhunya naik, tekanan atmosfernya tidak stabil, dan kadar karbonnya sudah di luar ambang sehat.

Kita, manusia, adalah pasien yang keras kepala sekaligus dokter yang lalai karena sibuk membangun gedung, lupa memeriksa denyut tanah. Untungnya, kini bumi punya “dokter digital”: satelit dan sensor yang terus mengawasinya dari langit.

Menurut laporan kolaborasi World Economic Forum (WEF) dan Frontiers, teknologi ini disebut Timely and Specific Earth Observation yang merupakan pengindraan bumi yang tak sekadar memotret bencana, tapi juga memprediksi, mencegah, dan memperingatkan. Sebuah sistem yang membuat planet ini bisa berbicara kepada kita, meski suaranya sering kita abaikan.


Mari kita naik sebentar tapi bukan ke langit ketujuh, tapi ke orbit rendah bumi, di mana ribuan satelit sibuk seperti lebah digital. Ada yang melacak kebakaran hutan, ada yang menghitung kehilangan es di Kutub Utara, ada pula yang memantau kadar air di sungai yang kering pelan-pelan. Setiap detik, mereka mengirimkan data kehidupan planet ini: suhu tanah, kadar polutan, luas hutan, bahkan warna laut.

Bumi kini seperti pasien yang mengenakan jam tangan pintar, setiap perubahan detak, tekanan, dan suhu tubuhnya bisa terbaca. Bedanya, ini jam tangan ukuran planet.

Tapi data itu tidak berhenti di sana. Ia turun ke laboratorium, ke laptop, ke tangan peneliti dan pembuat kebijakan. Di Eropa, ada proyek bernama Destination Earth (DestinE) yang sedang membangun “digital twin”, kembaran digital dari seluruh planet.

Melalui simulasi real-time, sistem ini bisa menunjukkan, misalnya, apa yang akan terjadi jika Kalimantan kehilangan 10% hutannya, atau jika suhu laut di Sulawesi naik setengah derajat.

Bumi kini bisa diajak berdialog lewat data. Tapi apakah manusia mau mendengar? Itu persoalan lain.

Bayangkan kalau semua ini diterapkan secara serius di Indonesia. Satelit memantau daerah rawan longsor, AI memprediksi kekeringan, dan sensor tanah memberi tahu kapan waktu terbaik menanam padi.

Kita tidak lagi menunggu banjir datang baru sibuk evakuasi, atau baru menanam pohon setelah foto viral di media sosial. Kita bisa mencegah, bukan sekadar menyesal.

Bahkan, di beberapa universitas Tanah Air, riset sensor lingkungan sudah berkembang. Mahasiswa mengembangkan alat deteksi polusi udara, drone pemantau hutan, dan sistem irigasi cerdas berbasis data cuaca.

Tapi, seperti biasa, ide-ide itu sering berhenti di ruang seminar, karena pendanaannya lebih langka dari satelit yang dipakai negara maju. Padahal, dengan data, kita bisa tahu kapan bumi mulai demam, kapan paru-parunya sesak, dan kapan jantung sungainya mulai melemah.

Teknologi penginderaan bumi ini adalah bentuk kesadaran baru umat manusia: bahwa kita tidak bisa memperbaiki sesuatu yang tidak kita pahami. Bahwa untuk menjaga bumi, kita harus terlebih dahulu mendengarnya,  bukan menafsir seenaknya.

Ada yang bilang, manusia sekarang terlalu bergantung pada teknologi. Tapi saya kira, untuk urusan bumi, kita malah kurang bergantung. Kita punya ribuan kamera di tangan, tapi tak satu pun diarahkan ke tanah yang mengering. Kita punya AI yang bisa membuat gambar realistis dari imajinasi, tapi tak cukup pintar untuk menghitung kehilangan hutan setiap hari.

Sementara itu, bumi terus berusaha bicara: lewat badai, lewat banjir, lewat kebakaran. Tapi mungkin ia sudah putus asa, karena manusia lebih sibuk memperbarui “status” ketimbang memperbarui kebijakan.

Dalam pandangan saya, teknologi seperti satelit dan AI lingkungan bukan sekadar alat pengawasan, tapi alat pertobatan. Ia membantu kita melihat dari jarak yang cukup jauh untuk sadar betapa kecilnya kita, tapi cukup dekat untuk merasa bertanggung jawab.

Sebuah kota bisa jadi megah, tapi kalau udara dan airnya sakit, itu bukan kemajuan. Itu ilusi. Satelit membantu kita menyingkap ilusi itu, mengingatkan bahwa pembangunan tanpa keseimbangan hanyalah versi digital dari kehancuran.

Bumi sedang bicara. Ia tidak berteriak, tapi berbisik lewat data, dalam gigabyte, dalam gelombang radio, dalam angka suhu yang naik setengah derajat. Dan teknologi hanyalah alat bantu dengar kita.

Mungkin, suatu hari nanti, manusia akan belajar berkomunikasi dengan bumi sebagaimana dokter mendengarkan pasiennya: dengan telinga yang jujur dan hati yang sabar. Kita akan berhenti bertanya “apa yang salah dengan iklim,” dan mulai bertanya “apa yang salah dengan cara kita hidup.”

Dan ketika bumi sudah bisa mengawasi dirinya sendiri lewat satelit dan sensor, semoga kita pun bisa mengawasi nurani kita sendiri. Karena planet ini mungkin bisa pulih dari luka-luka fisiknya, tapi belum tentu dari ketulian moral para penghuninya.

Bumi kini punya kecerdasan buatan. Tinggal kita, apakah masih mau hidup dengan kebodohan alami.

Populer

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Miliki Segudang Prestasi, Banu Laksmana Kini Jabat Kajari Cimahi

Jumat, 26 Desember 2025 | 05:22

Dugaan Korupsi Tambang Nikel di Sultra Mulai Tercium Kejagung

Minggu, 28 Desember 2025 | 00:54

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

UPDATE

Lima Penyidik Dipromosikan Jadi Kapolres, Ini Kata KPK

Senin, 05 Januari 2026 | 12:14

RI Hadapi Tantangan Ekonomi, Energi, dan Ekologis

Senin, 05 Januari 2026 | 12:07

Pendiri Synergy Policies: AS Langgar Kedaulatan Venezuela Tanpa Dasar Hukum

Senin, 05 Januari 2026 | 12:04

Pandji Pragiwaksono Pecah

Senin, 05 Januari 2026 | 12:00

Tokoh Publik Ikut Hadiri Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:58

Tak Berani Sebut AS, Dino Patti Djalal Kritik Sikap Kemlu dan Sugiono soal Venezuela

Senin, 05 Januari 2026 | 11:56

Asosiasi Ojol Tuntut Penerbitan Perpres Skema Tarif 90 Persen untuk Pengemudi

Senin, 05 Januari 2026 | 11:48

Hakim Soroti Peralihan KUHAP Baru di Sidang Nadiem Makarim

Senin, 05 Januari 2026 | 11:44

Akhir Petrodolar

Senin, 05 Januari 2026 | 11:32

Kuba Siap Berjuang untuk Venezuela, Menolak Tunduk Pada AS

Senin, 05 Januari 2026 | 11:28

Selengkapnya