Berita

Bursa Efek Indonesia (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Saham TOBA Tertekan Dua Hari Beruntun

JUMAT, 31 OKTOBER 2025 | 09:51 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melanjutkan tren pelemahan tajam pada perdagangan Kamis dan Jumat, 30-31 Oktober 2025. 

Tekanan jual selama dua hari berturut-turut, dan secara keseluruhan telah terkoreksi lebih dari 30 persen dalam sebulan, terutama disebabkan oleh kontradiksi antara laporan fundamental jangka pendek dan narasi bisnis jangka panjang perusahaan pertambangan ini.

Pelemahan ini dimulai sejak Rabu, 29 Oktober, saat TOBA mengumumkan Laporan Keuangan Kuartal III 2025 yang mencatatkan Rugi Bersih 127,37 juta Dolar AS atau sekitar Rp2,12 triliun, seperti dikutip dari keterbukaan informasi. Saham TOBA langsung anjlok signifikan pada hari itu.


Tekanan jual terus berlanjut. Pada Kamis, 30 Oktober, saham kembali melanjutkan pelemahan seiring investor mencerna dampak finansial yang terlampau besar akibat kerugian dan divestasi aset. 

Pada perdagangan Jumat pagi, 31 Oktober, pergerakan saham mulai menunjukkan fase wait and see dan mencari level support teknikal di sekitar harga Rp800-an. Laman IDNFinansial mencatatkan Harga saham TOBA dibuka naik 0,61 persen dan berada di level Rp820, dengan volume saham 26.933.100 lembar. 

Meskipun fundamental masih menekan, base support ini membuka peluang bagi rebound teknikal jangka pendek.

Penyebab utama dari tekanan jual adalah kerugian bersih yang didorong oleh dua faktor. Pertama, penurunan tajam dalam pendapatan dari bisnis batu bara yang merupakan bisnis tradisional TOBA. Kedua, kerugian non-kas signifikan yang timbul dari divestasi (pelepasan) dua entitas anak. 

Di saat yang sama, sentimen pasar diperkeruh oleh kabar bahwa perusahaan tidak terlibat dalam lelang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang disiapkan BPI Danantara. Hal ini membuat investor mempertanyakan realisasi dari narasi transisi energi hijau TOBA, meskipun di sisi operasional, segmen pengelolaan limbah perusahaan justru mencatat pertumbuhan pendapatan yang kuat.

Secara keseluruhan, tekanan pada saham TOBA adalah cerminan dari ketidakpastian pasar dalam menilai biaya dan waktu yang dibutuhkan perusahaan untuk menyelesaikan transformasi besar dari energi konvensional ke bisnis yang sepenuhnya berkelanjutan.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya