Berita

(Foto: Dok. Telkom Indonesia)

Bisnis

Telkom Perkuat TIF untuk Tumbuhkan Revenue Bisnis Infrastruktur

JUMAT, 24 OKTOBER 2025 | 18:17 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mempertegas fokus bisnis di sektor infrastruktur digital. Fokus ini diwujudkan melalui pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity kepada anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF).

Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan conditional spin-off agreement (CSA) di Jakarta, pada Senin 20 Oktober 2025.

Melalui aksi korporasi ini, para pemangku kepentingan diharapkan mendapatkan nilai tambah melalui optimalisasi aset, peningkatan efisiensi operasional dan investasi, serta monetisasi infrastruktur dan kemitraan strategis.


Pemisahan aset, kata Direktur Utama Telkom Dian Siswarini, menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi Telkom menuju strategic holding yang berorientasi pada penguatan fondasi bisnis infrastruktur digital nasional.

“Keberadaan TIF tidak hanya memperkuat posisi Telkom Group sebagai penyedia infrastruktur digital utama di Indonesia, tetapi memungkinkan kami menghadirkan layanan generasi terbaru yang lebih kompetitif serta memberikan pengalaman yang lebih baik kepada pelanggan,” ujar Dian dalam keterangan tertulis, Jumat 24 Oktober 2025.

Strategi pemisahan tersebut sejalan dengan praktik terbaik yang telah diterapkan sejumlah operator global, seperti Telstra (Australia), Telecom Italia (TIM), Telefonica, O2, dan CETIN (Republik Ceko).

Langkah serupa terbukti meningkatkan efisiensi, valuasi, serta potensi kemitraan strategis melalui pembentukan entitas pengelola infrastruktur yang berdiri sendiri.

“Langkah strategis yang sejalan dengan tren global ini diharapkan dapat memungkinkan TIF untuk menghadirkan struktur bisnis yang lebih fokus, transparan, dan kompetitif,” kata Dian.

Direktur Utama PT TIF I Ketut Budi Utama menambahkan, pihaknya siap menjadi tulang punggung konektivitas digital Indonesia. 

Ia menyebut pemisahan ini sebagai momentum penting bagi TIF untuk beroperasi lebih fokus dan efisien dalam mengelola infrastruktur jaringan nasional.

“Kami berkomitmen untuk memperluas cakupan infrastruktur dan mendorong inovasi berkelanjutan sehingga dapat menghadirkan layanan wholesale connectivity yang andal, transparan, dan kompetitif, dan sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi pelaku industri telekomunikasi,” kata Ketut.

Setelah pemisahan rampung, TIF akan mengelola lebih dari 50 persen aset jaringan fiber Telkom yang mencakup segmen access, aggregation, backbone, serta infrastruktur pendukung lain dengan nilai transaksi mencapai Rp 35,8 triliun.

Meski Telkom masih memegang lebih dari 99,9 persen saham TIF, entitas baru ini akan beroperasi secara netral.

TIF akan menyediakan layanan wholesale fiber connectivity bagi pelanggan eksternal ataupun internal TelkomGroup guna memastikan ketersediaan konektivitas berkualitas tinggi dan berdaya jangkau luas.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, TIF akan menggunakan nama InfraNexia sebagai identitas korporasi.

Nama tersebut merupakan singkatan dari “infrastruktur konektivitas Indonesia” dan mencerminkan komitmen TIF sebagai penggerak optimalisasi jaringan fiber nasional.

Melalui produk wholesale fiber connectivity yang mencakup Metro-E, SL-WDM, Global Link, IP Transit, Passive Access, VULA, dan Bitstream, TIF juga tengah mengembangkan layanan white label FTTX untuk menjawab kebutuhan pelanggan wholesale.

“Kami memastikan bahwa kehadiran TIF mampu memberikan nilai tambah yang nyata, tidak hanya bagi pelanggan wholesale, tetapi juga bagi ekosistem digital nasional secara keseluruhan,” imbuh Ketut.

Setelah penandatanganan CSA, rangkaian tahapan persiapan pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity akan segera berjalan.

Telkom Group memastikan seluruh tahapan berlangsung transparan dan sesuai ketentuan hukum, termasuk peraturan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

UPDATE

Tak Sekadar Acara Formal. Mubes BMK 1957 Hadirkan City Tour di Semarang

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:23

BPS Catat Inflasi 2,88 Persen pada Juli 2026, Ini Biang Keroknya

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:22

Fahira Idris Desak Pemprov DKI Perkuat Antisipasi Puncak Kemarau

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:09

Usulan RUU LGSP MUI Jadi Ujian Keseriusan DPR dan Pemerintah

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:06

Provokasi Bangkrut dari ‘De Volkskrant’

Senin, 03 Agustus 2026 | 12:02

Dewas Soroti Ratusan Pemberitahuan Pro Justitia KPK Terlambat Disampaikan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:58

Ponpes Tambakberas Libatkan Santri Jadi Relawan Muktamar NU

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:49

Prabowo Akan Terima Kunjungan PM Thailand di Istana Merdeka Sore Ini

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:46

Indonesia Catat Deflasi 0,14 Persen di Juli 2026, Dipicu Harga Pangan

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:45

Tiga Masalah Utama Pemicu Turunnya Kepuasan terhadap Prabowo

Senin, 03 Agustus 2026 | 11:21

Selengkapnya