Berita

Para inisiator Jakarta International Arbitration Center (JIAC) di Auditorium Gedung M, Kampus 1 Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat pada Selasa, 21 Oktober 2025. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Bisnis

JIAC Hadir sebagai Pusat Penyelesaian Perdagangan Berkelas Dunia

RABU, 22 OKTOBER 2025 | 01:55 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Secara resmi Jakarta International Arbitration Center (JIAC), lembaga arbitrase internasional telah diluncurkan di Auditorium Gedung M, Kampus 1 Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat pada Selasa, 21 Oktober 2025. 

JIAC diharapkan dapat menjadi pusat penyelesaian sengketa perdagangan dan investasi yang kredibel dan berkelas dunia. Peluncuran tersebut turut dihadiri oleh para tokoh dari kalangan hukum, pemerintahan, akademisi, dan dunia usaha. Acara ini dibuka dengan sambutan Ketua Umum JIAC Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim.

Ia menegaskan tentang pentingnya kehadiran lembaga arbitrase internasional di Indonesia dalam memperkuat kemandirian hukum nasional dan memperkokoh posisi Indonesia di kancah perdagangan global.
“JIAC lahir dari kesadaran bahwa kemandirian hukum adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatan nasional. Kita harus mampu menyelesaikan sengketa secara mandiri, adil, dan profesional di rumah sendiri,” ujar Chappy Hakim.

“JIAC lahir dari kesadaran bahwa kemandirian hukum adalah bagian tak terpisahkan dari kedaulatan nasional. Kita harus mampu menyelesaikan sengketa secara mandiri, adil, dan profesional di rumah sendiri,” ujar Chappy Hakim.

Selanjutnya, Inisiator JIAC Dr. Ir. Anita Dewi Anggraeni Kolopaking,  menjelaskan latar belakang pendirian lembaga ini sebagai wadah penyelesaian sengketa yang mengedepankan prinsip independensi, transparansi, dan efisiensi.

“JIAC diharapkan menjadi rumah bagi penyelesaian sengketa perdagangan dan investasi yang berpihak pada keadilan dan kepastian hukum, sekaligus memperkuat reputasi Indonesia di mata dunia,” tutur Anita Kolopaking. 

Sementara itu, Rektor Universitas Tarumanagara sekaligus Sekretaris Jenderal JIAC, Prof. Dr. Amad Sudiro,  menyampaikan bahwa pembentukan JIAC merupakan bentuk kontribusi nyata dunia akademik dalam menjembatani teori hukum dengan praktik penyelesaian sengketa internasional. 
“UNTAR berkomitmen untuk terus melahirkan inovasi kelembagaan yang relevan dengan kebutuhan zaman. JIAC adalah wujud nyata sinergi antara ilmu pengetahuan, etika, dan praktik hukum modern,” ungkap Prof. Amad Sudiro. 

Dalam sambutan berikutnya, Ketua Yayasan Tarumanagara sekaligus Ketua I JIAC, Prof. Dr. Ariawan Gunadi, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendukung keberlanjutan lembaga ini.

“JIAC merupakan wadah tempat penyelesaian sengketa perdagangan yang dimiliki oleh seluruh pelaku usaha baik di dalam maupun di luar negeri. Kami berharap lembaga ini menjadi pusat rujukan arbitrase internasional yang berintegritas dan terpercaya di kawasan Asia Tenggara,” ujar Ariawan Gunadi. 

Acara peluncuran turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Perdagangan yaitu Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Tommy Andana yang hadir mewakili Menteri Perdagangan Dr. Budi Santoso. 

Kehadiran pejabat Kemendag ini untuk memberikan dukungan terhadap kehadiran lembaga arbitrase nasional ini. Kehadiran Dirjen menegaskan bahwa memperkuat iklim investasi dan kepastian hukum perdagangan di Indonesia. 

Selain tokoh-tokoh utama, acara ini juga dihadiri oleh Jenderal TNI (Purn.) Dr. (HC) Sutiyoso, selaku Ketua Pengawas JIAC, beserta dua Hakim Agung Republik Indonesia yakni: Dr. Ibrahim dan Dr. H. Haswandi, perwakilan dari Mahkamah Konstitusi Sigit Pramono selaku inspektur MK. 

JIAC merupakan lembaga arbitrase independen didirikan untuk menangani penyelesaian sengketa perdagangan, investasi, dan kontrak internasional melalui mekanisme arbitrase dan mediasi. 

Dengan prinsip integritas, independensi, dan profesionalisme, JIAC berkomitmen menjadi lembaga arbitrase terpercaya di tingkat nasional maupun internasional, mendukung misi Indonesia menuju kemandirian hukum ekonomi dan keadilan global.


Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

KPK Setengah Hati Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:16

Optimisme dan Tantangan Golkar di Era Bahlil Lahadalia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 02:08

Dibuka Program Madrasah Layak Belajar 2026 untuk 700 Madrasah

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:38

Prabowo dan DPR Harus Dengarkan Desakan Gibran Mundur dari Wapres

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:23

Bantu Kuliner Indonesia Mendunia, Pemerintah Diminta Tiru Thailand

Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:01

Lumat Arema, Persija Puncaki Klasemen

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:39

PDIP: Usulan Luhut Cederai Rasa Keadilan Masyarakat

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:19

Infrastruktur Perikanan KNMP di Papua Tengah Diharapkan Dorong Ekonomi Nelayan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 00:01

Usulan Luhut soal Ubah Definisi Korupsi Membahayakan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:35

Polisi Bunuh Polisi Melonjak Dua Kali Lipat pada 2026

Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:15

Selengkapnya