Berita

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Bimo Wijayanto. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Politik

Setahun Pemerintahan Prabowo, Dirjen Pajak Pamer Kinerja

SENIN, 20 OKTOBER 2025 | 19:25 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Bimo Wijayanto, memaparkan sejumlah capaian kebijakan fiskal selama satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. 

Ia menilai, berbagai insentif dan fasilitas pajak yang digulirkan pemerintah telah memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia usaha.

“Ini setahun berdampak, katakanlah begitu. Yang pertama terkait dengan insentif pajak, berbagai keringanan dan fasilitas pajak sudah digulirkan untuk membantu masyarakat dan bisnis,” ujar Bimo dalam Media Briefing pada Senin, 20 Oktober 2025.


Menurutnya, sejumlah kebijakan pajak yang ditanggung pemerintah telah diterapkan di berbagai sektor strategis. Di antaranya, PPH 21 untuk karyawan sektor padat karya, serta diskon PPN guna mendorong konsumsi masyarakat. Pemerintah juga menanggung PPN untuk penyerahan rumah tapak dan rumah susun, PPN kendaraan listrik dan hybrid, hingga PPN tiket pesawat.

Selain itu, insentif PPH 21 turut diberikan bagi sektor padat karya seperti alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang kulit, serta sektor pariwisata meliputi hotel, restoran, dan kafe. Bimo menambahkan, pemerintah juga terus memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM agar bisa naik kelas.

“UMKM dengan omzet sampai Rp500 juta tetap bebas PPH. Sementara omzet antara Rp500 juta hingga 4,8 miliar setahun dikenakan tarif PPH final 0,5 persen, dan kebijakan ini sudah kami perpanjang sampai tahun 2029,” jelasnya.

Di sisi lain, Bimo mengungkapkan fokus Direktorat Jenderal Pajak kini juga diarahkan pada penegakan hukum multidoor melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Satgas tersebut menindaklanjuti penertiban di sektor sawit dan pertambangan, bekerja sama dengan BPKP, PPATK, Kejaksaan Agung, serta KPK.

“Selain itu, ada kolaborasi dengan KPK untuk perbaikan tata kelola penerimaan negara di sektor tambang, dengan Polri di sektor tambang dan importasi komoditas, serta dengan OJK melalui Satgas Pasti,” ungkapnya.

Menurut Bimo, kolaborasi lintas lembaga tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat tata kelola dan memastikan penerimaan negara dari sektor-sektor strategis berjalan optimal.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya