Berita

Mata uang Rupah (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Celios: Kinerja Ekonomi Nasional Masih Buruk

SENIN, 20 OKTOBER 2025 | 09:00 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Lembaga riset Center of Economic and Law Studies (Celios) mengatakan, rendahnya penilaian publik terhadap kinerja pemerintahan Prabowo-Gibran di bidang ekonomi dalam satu tahun terakhir menjadi indikasi kegagalan kebijakan untuk menjawab tekanan biaya hidup dan daya beli masyarakat. 

Mayoritas publik menilai pungutan dan pajak pemerintah memberatkan, sementara stimulus ekonomi tidak membantu kebutuhan harian.

“Fakta bahwa 84 persen responden menganggap pajak dan pungutan pemerintah memberatkan, serta lebih dari separuh menilai bantuan ekonomi tidak membantu kebutuhan harian, menunjukkan adanya ketimpangan serius antara desain kebijakan fiskal dan kondisi riil masyarakat,” ujar Peneliti Ekonomi Celios, Bakhrul Fikri, dalam keterangan tertulis yang dikutip redaksi di Jakarta, Senin 20 Oktober 2025. 


Menurutnya, data Celios mencatat, 53 persen publik menilai stimulus ekonomi tidak berdampak pada kebutuhan dasar. Sementara 43 persen menilai upaya pemberantasan korupsi di sektor ekonomi belum optimal.

Momentum ini seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk melakukan koreksi arah kebijakan ekonomi. 

“Pemerintah perlu memperbaiki efektivitas program perlindungan sosial, menyederhanakan pungutan dan pajak, memperkuat komunikasi publik yang transparan, serta menghentikan beberapa program yang tidak mampu menciptakan multiplier effect bagi masyarakat, salah satunya MBG,” tegasnya.

Dalam survei itu, 72 persen responden menilai kinerja ekonomi nasional masih buruk. Publik menilai kebijakan yang dikeluarkan tidak selaras dengan kebutuhan masyarakat dan belum mampu menekan kenaikan harga barang pokok.

Celios juga menilai, lemahnya kinerja ekonomi selama satu tahun pemerintahan menjadi faktor utama turunnya kepercayaan publik. Penurunan daya beli dan tingginya beban pajak disebut memperdalam kesenjangan sosial di lapisan masyarakat menengah ke bawah.

Selain itu, 98 persen responden mendukung pemangkasan nomenklatur kementerian agar struktur pemerintahan lebih efisien dan terfokus. Publik menilai kabinet saat ini terlalu gemuk dan lamban dalam mengambil keputusan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Insentif SPPG Dipangkas, Wamenkeu Senang MBG Terus Lakukan Reformasi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:15

Putra Pandeglang jadi Kapolri, Sejarah Baru bagi Banten!

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:43

Dana Kopdes Rp37 Triliun Sudah di Himbara, Tapi Masih Dikunci Kemenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 00:20

Bupati Gowa Tidak Ditahan Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Ini Sebabnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 23:18

Muhadjir Effendy Menyesal Tak Bisa Maksimal Dongkrak Kesejahteraan Guru

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:33

Kasus Alpriado Osmond Diputus PN Tangerang, Hak Asuh Anak Dimenangkan Ibu

Kamis, 01 Oktober 2026 | 22:06

Saatnya Mahasiswa Kritisi Sistem Dominasi "Fraksi" di Parlemen

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:42

Pertamina Patra Niaga Salurkan LPG 3 Kg ke 958 Kopdes Merah Putih

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:31

Asesmen jadi Fondasi Pembinaan Warga Binaan Lapas Cianjur

Kamis, 01 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya