Berita

Potongan gambar dari vidio AI Presiden AS Donald Trump (Foto: The Independent)

Dunia

Trump Sindir Massa Aksi “No Kings” Lewat Video AI Kontroversial

MINGGU, 19 OKTOBER 2025 | 11:25 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan dalam aksi “No Kings” di New York City pada Sabtu, 18 Oktober 2025 waktu setempat. 

Menurut Kepolisian New York (NYPD), aksi tersebut merupakan bagian dari demonstrasi besar-besaran yang digelar di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat, dengan jumlah peserta diperkirakan mencapai hampir 7 juta orang. 

Massa menolak gaya kepemimpinan Presiden Trump yang dianggap semakin otoriter.


Sebagai respons, Presiden Trump justru membagikan video buatan AI di akun media sosialnya. Dalam video tersebut, ia digambarkan mengenakan mahkota dan menerbangkan jet tempur bertuliskan “KING TRUMP” di langit Times Square, lalu menjatuhkan cairan cokelat ke arah massa demonstran. 

Video itu diiringi lagu “Danger Zone” dari film Top Gun, yang membuatnya semakin mencuri perhatian publik.

Langkah Trump ini memicu kontroversi karena dianggap merendahkan aksi damai jutaan warga. 

“Mereka jelas takut pada perlawanan damai,” ujar Ezra Levin, salah satu pendiri organisasi Indivisible, kepada The Independent.

Beberapa pejabat Partai Republik juga ikut mengejek aksi “No Kings”. Ketua DPR AS Mike Johnson menyebut aksi tersebut sebagai “Aksi benci Amerika”. 

Sementara Menteri Transportasi Sean Duffy menuduh para demonstran sebagai simpatisan Hamas atau bayaran kelompok Antifa, yang telah dicap sebagai organisasi teroris domestik oleh pemerintahan Trump.

Tak hanya itu, para sekutu Trump juga ramai menyebarkan gambar dan video AI lain yang menggambarkan presiden seperti seorang raja. 

Wakil Presiden JD Vance bahkan membagikan video AI yang menampilkan Trump mengenakan mahkota dan jubah, sementara tokoh Partai Demokrat digambarkan berlutut di hadapannya.

Kritikus menilai, tindakan ini bukan sekadar candaan. Mereka menilai Trump sedang membangun citra kepemimpinan kuat yang dapat membenarkan tindakan represif. 

Sebelumnya, pemerintahan Trump juga pernah mengerahkan agen federal ke kota-kota besar dan mempertimbangkan penggunaan Undang-Undang Insureksi untuk memperluas peran militer di dalam negeri.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya