Berita

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani. (Foto: RMOL/Alifia Dwi Ramandhita)

Bisnis

Rosan: Ada Investor Besar Mau Garap Hilirisasi Kelapa Indonesia

SABTU, 18 OKTOBER 2025 | 07:35 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Hilirisasi kelapa menjadi salah satu sektor investasi prioritas. Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyoroti  Indonesia adalah penghasil kelapa terbesar di dunia sehingga peluang hilirisasi komoditas ini sangat besar.

“Dari segi investasi memang lebih kecil dibanding nikel, tapi penciptaan lapangan kerja dan kepastian harga untuk petani kelapa menjadi sangat baik,” ujar Rosan di Jakarta, Jumat 17 Oktober 2025. 

Hilirisasi kelapa yang saat ini berjalan melibatkan proyek senilai 100 juta Dolar AS. Setiap tahap diproyeksikan menyerap minimal 5.000 pekerja, termasuk pengumpul/pemasok lokal. Rosan menekankan pemanfaatan 100 persen bahan baku dari kelapa itu sendiri sebagai kunci penciptaan lapangan kerja.


Proyek ini menggantikan alur produksi, yang sebelumnya berada di China,ke ndonesia. “Kebutuhan kelapa untuk satu pabrik mencapai 500 juta butir. Selama ini mereka kirim dari Indonesia ke China dengan biaya logistik tinggi. Kini, kami yakinkan mereka untuk investasi langsung di sini,” tutur Rosan yang juga CEO Danantara ini.

Groundbreaking konstruksi untuk proyek ini telah dilakukan, dan investor berencana mengembangkannya hingga tiga tahap. Walaupun nilai totalnya tidak sebesar industri mineral bernilai miliaran dolar, Rosan meyakini dampak sosial ekonomi bagi desa-desa kelapa akan sangat signifikan.

Investor utama dalam proyek hilirisasi kelapa ini salah satunya adalah Zhejiang FreeNow Food Co. Ltd., produsen kelapa dan turunannya terbesar di China. FreeNow telah memiliki enam pabrik di negaranya. Kehadiran investor ini diharapkan mendorong hilirisasi kelapa di Indonesia sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal.

Model hilirisasi yang berhasil ini rencananya akan diperluas ke sektor perkebunan lain. Selain itu, Kementerian Investasi juga akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk penguatan nelayan, termasuk melalui pembangunan tambak dan desa nelayan, yang diperkirakan akan dimulai tahun depan.

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Blusukan Jokowi Sulit Naikkan Suara PSI, Apalagi Goyang PDIP

Senin, 01 Juni 2026 | 04:00

UPDATE

Meluruskan Hari Lahirnya Pancasila: Dari Piagam Jakarta Hingga Dekrit Presiden

Selasa, 02 Juni 2026 | 20:01

Kuasa Hukum Gus Yaqut Sebut Tidak Ada Konfirmasi Aliran Dana

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:46

RI Impor Emas 2,5 Ton pada April 2026, Australia jadi Pemasok Terbesar

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:16

Saksi Perkara Maluku, Thobahul Aftoni Akui Mardiono Ketum PPP

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:13

BEM PTMA: MBG adalah Investasi Jangka Panjang Menuju Indonesia Emas

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:09

Gerinda Sebut Lawatan Prabowo Perkokoh Posisi Indonesia di Kancah Dunia

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:08

KPK Tahan Tiga Tersangka Korupsi Pembangunan Gedung Pemkab Lamongan

Selasa, 02 Juni 2026 | 19:05

Habiburokhman: Zaman Pak Dino Sehebat Apa sih?

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:50

Daftar Harga LPG 5,5 kg dan 12 Kg Terbaru, Cek Tiap Provinsi

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:47

SPI: Nasionalisme dan Kepastian Hukum Harus Seimbang

Selasa, 02 Juni 2026 | 18:46

Selengkapnya