Berita

Diskusi Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) bertajuk "Membangun Kelembagaan KPU yang Ideal", di De Tuna Resto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Oktober 2025. (Foto: RMOL/Ahmad Satryo)

Politik

Darurat Perbaikan Sistem Informasi KPU Demi Perkuat Demokrasi

KAMIS, 16 OKTOBER 2025 | 22:12 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Pemanfaatan teknologi informasi buat pemilihan umum oleh KPU diberi sinyal untuk segera diperbaiki. Pasalnya, hal itu memunculkan beberapa masalah yang berimbas pada turunnya ranking demokrasi Indonesia.

"Tantangan KPU ke depannya seperti apa? Kemudian hal apa yang harus dilakukan oleh KPU? Karena di sini membicarakan tentang kelembagaan yang ideal," ujar Manajer Pemantauan Sekretariat Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (Seknas JPPR) Nopa Supensi, dalam diskusi bertajuk "Membangun Kelembagaan KPU yang Ideal", di De Tuna Resto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Oktober 2025.

Lanjut dia, tantangan yang akan dihadapi KPU ke depan adalah terkait teknologi informasi yang berkaitan dengan pemanfaatan sistem informasi yang digunakan sebagai instrumen keterbukaan pada publik di setiap tahapan pemilu.


"Mengenai tantangan dengan kondisi yang terjadi di masyarakat hari ini, itu terjadi di Pemilu 2024 kemarin juga. Dimana, mengenai tantangannya yaitu bagaimana misinformasi disinformasi digital dan cyber manipulation," terang Nopa.

Menurut dia, misinformasi, disinformasi dan cyber manipulation di era teknologi saat ini berpotensi semakin masif di pemilu mendatang, dan membuat sistem informasi KPU berkemungkinan besar dipolitisir yang berujung gaduh.

Sebagai contoh, ia mengungkit tragedi kesalahan data di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap) KPU yang menjadi bahan bulan-bulanan netizen karena tata kelola dan pemanfaatannya belum dapat ditingkatkan secara lebih baik dari sebelumnya. 

"Di mana mengenai digitalisasi teknologi, bagaimana informasi-informasi yang didapatkan oleh masyarakat, sangat cepat mempengaruhi. Sehingga, terjadi (penyebaran) berita-berita hoaks kemudian manipulasi informasi," tuturnya.

"Pada akhirnya masyarakat mendengarkan atau mendapatkan informasi yang tidak benar ataupun berita hoaks, yang akhirnya mereka melemahkan demokrasi atau melemahkan nilai demokrasi itu sendiri," pungkas Nopa.


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya