Berita

Ilustrasi QRIS. (Istimewa)

Bisnis

Kinerja QRIS Moncer, Ekonomi Digital RI Tak Takut Perang Tarif

KAMIS, 16 OKTOBER 2025 | 12:31 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pemerintah terus berupaya memaksimalkan potensi ekonomi digital demi mengejar target pertumbuhan ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sektor ekonomi  tidak akan terpengaruh dengan berbagai hambatan perang tarif yang sebelumnya pernah terjadi, akibat kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

"Jadi jangan khawatir di bidang digital itu kita kalah, kita di digital ini sangat menguasai. Bahkan, kita ekonomi digital kita US$ 150 miliar dan ekonomi digital tidak takut terhadap tarif-tarifan. Karena barangnya itu bisa berjalan," ujar Airlangga dalam acara Satu Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Optimism on 8 Percent Economic Growth di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis, 16 Oktober 2025.


Kritikan pemerintah AS beberapa waktu lalu terhadap penerapan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Indonesia dianggap menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang besar.

Selama ini sistem pembayaran menggunakan QRIS telah menopang ekonomi melalui peningkatan digitalisasi transaksi, inklusi keuangan, hingga UMKM. Terbukti pengguna QRIS saat ini telah tembus 56 juta pengguna, melampaui pengguna credit card. 

Selain itu, melalui kesepakatan Local Currency Transaction (LCT), RI telah bekerja sama dengan sejumlah negara untuk implementasi QRIS. QRIS  pun kini bisa digunakan di Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea hingga United Arab Emirates.

Menurut Airlangga, perkembangan ekonomi digital RI menjadi salah satu katalisator dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi menuju 8 persen. Hal ini menyusul bisnis logistik dan pergudangan atau warehouse di RI yang akan melonjak jauh di atas pertumbuhan ekonomi.

"Kita berharap dengan LCT menggunakan QRIS sudah bisa berbelanja di luar negeri. Dan QRIS rupanya menyalip penggunaan credit card. Makanya berbagai operator mulai jengah melihat bagaimana kita bisa bergerak cepat dan jumlah pengguna QRIS sudah 56 juta. Jadi kita mempunyai resilience," pungkasnya.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya