Berita

Ilustrasi (Foto: East Asia Forum)

Bisnis

IMF Minta BOJ Naikkan Suku Bunga secara Bertahap

KAMIS, 16 OKTOBER 2025 | 09:11 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Bank of Japan (BOJ) perlu tetap berhati-hati dan mempertahankan kebijakan moneter longgar sambil menaikkan suku bunga secara bertahap. 

Hal ini disampaikan oleh Nada Choueiri, wakil direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, yang menyoroti ketidakpastian perdagangan global masih membayangi prospek ekonomi Jepang. Iamengatakan masih ada keraguan apakah kenaikan upah di Jepang bisa menjaga inflasi di sekitar target 2 persen milik BOJ.

“Ke depannya, langkah bertahap sangat penting karena tingginya tingkat ketidakpastian,” ujarnya di sela pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington, dikutip dari Reuters, Kamis 15 Oktober 2025. 


Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya bisa terjadi pada Januari mendatang. Sementara itu, pertemuan kebijakan moneter BOJ berikutnya dijadwalkan pada 29-30 Oktober, disusul pertemuan pada Desember dan Januari.

Setelah satu dekade menerapkan stimulus besar-besaran, BOJ tahun lalu mulai keluar dari kebijakan ultra-longgar dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 0,5 persen. Gubernur BOJ Kazuo Ueda telah mengisyaratkan kesiapan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut, namun tetap menekankan perlunya langkah hati-hati agar tidak mengguncang perekonomian.

Tingginya harga pangan akibat pelemahan Yen dan mahalnya impor menambah dilema BOJ dalam menentukan waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga. Dua dari sembilan anggota dewan BOJ bahkan menolak usulan kenaikan suku bunga pada September lalu, menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan di internal bank sentral.

Choueiri menilai tekanan harga di Jepang masih terkendali dan tidak menunjukkan tanda-tanda “overheating”. Ia juga menilai dampak pelemahan Yen terhadap inflasi cukup terbatas. Namun, ketidakpastian politik turut membayangi prospek ekonomi Jepang, terutama setelah mitra koalisi partai berkuasa menarik dukungan terhadap calon perdana menteri perempuan pertama, Sanae Takaichi.

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Direksi BUMN Butuh Kepastian Hukum, Bukan Kekebalan

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:59

Menkop dan Wantimpres Rocky Gerung Hadiri Pra Kongres Syarikat Islam ke-42

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:50

Kakak Kandung Ridwan Kamil Dicecar KPK soal Kasus Korupsi bjb

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:46

IHSG Menguat 1,36 Persen, Rupiah Masih Dibayangi Konflik Timur Tengah

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:38

Legislator PDIP Ungkap Sejumlah Isu yang Dibahas dalam Revisi UU Pemilu

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:21

BOP Pantura Bentukan Prabowo untuk Jaga Kawasan Pesisir

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:04

Perampasan Aset Tanpa Pemidanaan Rentan Disalahgunakan

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:56

Warek Unsoed Dicecar KPK soal Mekanisme PMB Jalur Mandiri

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:37

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah jadi Kunci

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:35

GWS Dorong UMKM jadi Ruang Perempuan Perkuat Peran Ekonomi

Senin, 05 Oktober 2026 | 18:25

Selengkapnya